Friday, 14 December 2018

Demokrat: Kritik Andi Arief ke Prabowo, Itu Dorongan untuk Menang

Jumat, 12 Oktober 2018 — 21:51 WIB
Ketua Umum Partai Gerindra, Prabowo Subianto,. (yendhi)

Ketua Umum Partai Gerindra, Prabowo Subianto,. (yendhi)

JAKARTA – Kritik politisi Demokrat Andi Arief terhadap Capres Prabowo yang dinilainya tak serius, mendapat tanggapan dari koleganya di parpol besutan SBY (Susilo Bambang Yudhoyono). Kadiv Hukum DPP Demokrat Ferdinand Hutahaean menyampaikan,  kicauan Andi bukan suara partai, namun dinilai sesuatu yang baik.

“Diperlukan energi yang lebih besar. Saya pikir yang disampaikan Andi Arief itu sesuatu yang baik tujuannya, tidak negatif,” kata Ferdinand ujarnya di Jakarta, Jumat (12/10/2018).

Baginya,  kritik Andi itu positif, dan dorongan untuk kemenangan. “Yang disampaikan Andi Arief positif. Kritik itu untuk kebaikan semua, di twit Andi bilang juga begitu, karena kita ingin menang di Pilpres,” ujar Ferdinand.

Ditambahkannya lagi, twit Andi Arief merupakan pendapat pribadi. Sehingga tak ada hubungannya dengan kebijakan atau pandangan Partai Demokrat terhadap Prabowo.

“Yang disampaikan itu pendapat  personal. Tidak terkait dengan partai. Karena partai menyalurkan masukan secara langsung melalui tim pemenangan Prabowo maupun Sandi. Jadi itu percakapan di tengah publik agar Prabowo semakin gesit,” katanya.

Sebelumnya, Andi Arief menilai, Prabowo tidak serius untuk turun ke berbagai tempat seperti Cawapres Sandiaga Uno. Ia pun menyatakan, Pilpres itu harus aktif.

“Pilpres itu memilih Presiden, jadi kalau Pak Prabowo tidak mau keliling Indonesia aktif, enggak ada rumus ajaib untuk menang. Kalau Pak Prabowo agak males-malesan, kan gak mungkin partai pendukungnya super aktif,” ujar Andi dalam Twitter-nya, Jumat (12/10/2018).

Andi menyatakan,apa yang disampaikan adalah otokritik. “Ini otokritik: Kalau dilihat cara berkempanyenya sebetulnya yang mau jadi Presiden itu @sandiuno atau Pak Prabowo ya. Saya menangkap kesan Pak Prabowo agak kurang serius ini mau jadi Presiden,” ujarnya.

Ia mengakatan, 6 bulan adalah waktu singkat dalam dunia politik. Prabowo harus segera bergerak, menyapa dan peluk cium rtakyat.

“Enam bulan adalah waktu yang terlalu pendek dalan politik. Pak Prabowo harus keluar dari sarang kertanegara, kunjungi rakyat, sapa, peluk cium dan sampaikan apa yang akan dilakukan kalau menang di tengah ekonomi yg sulit ini. Sekian kritik saya.

Dia menambahkan, bahwa pasti banyaka orang akan menyerangnya, soal otokritik ini. “Pasti banyak yang gak suka soal kriik saya atas males2an Pak Prabowo keliling aktif ke Indinesia ini. Tapi percayalah kalau direnungkan bagaimana mungkin kemenangan mengejar orang yang malas?” kata aktivis yang pernah diamankan dizaman Orba itu. (win)