Thursday, 18 October 2018

Fenomena ‘Ngelem’ Mengancam Remaja

Jumat, 12 Oktober 2018 — 4:58 WIB

FENOMENA anak dan remaja menghirup lem, atau ‘ngelem’, saat ini menjadi salah satu ancaman serius selain narkoba. Kalau biasanya perilaku ‘ngelem’ ditemukan di kalangan anjal (anak jalanan), kini perilaku menyimpang tersebut merambah ke kalangan pelajar. Mereka bahkan berani menggelar ‘pesta ngelem’ beramai-ramai.

Ini terungkap ketika polisi menciduk 25 remaja, 17 di antaranya pelajar, saat mereka sedang ‘pesta ngelem’ di Koja, Jakarta Utara. Mereka memang tidak diproses hukum, melainkan dipulangkan ke orangtua masing-masing untuk dibina. Namun siapa yang bisa menjamin mereka tidak kembali ‘ngelem’ bila sudah kecanduan.

Menghirup uap solvent yang terkandung pada lem, sama bahayanya dengan narkoba. Efek yang ditimbulkan sama seperti pengaruh narkoba yaitu halusinasi, yaitu fly atau sensasi terasa melayang-layang, kesenangan sesaat dan menimbulkan keberanian dan membuat ketagihan. Itu sebabnya dalam beberapa kasus kejahatan jalanan, pelakunya ternyata lebih dulu ‘ngelem’ sebelum beraksi.

Tak banyak orangtua dan anak-anak tahu, menghirup uap solvent yang terkandung pada lem, tinner atau cat minyak, pernis, atau bensin secara terus menerus, berdampak mengerikan.
Dalam sejumlah penelitian disebutkan, efak uap solvent yang didapat dari kebiasaan ‘ngelem’ merusak syaraf otak, menimbulkan kebutaan bahkan bisa mati mendadak (Sudden Sniffing Death).

Di sejumlah daerah di Indonesia, termasuk di Jakarta, kebiasaan ‘ngelem’ banyak dilakukan anjal. Penyebabnya lebih kepada persoalan sosial, karena mereka datang dari keluarga broken home, faktor ekonomi yang membuat mereka hidup di jalanan yang memaksa mereka hidup ‘liar’ tanpa pengawasan dan tidak tersentuh pendidikan.

Itu sebabnya bila gejala ‘ngelem’ menular pada remaja dari keluarga utuh, terlebih lagi pelajar, ini ancaman serius karena bisa jadi cikal bakal kecanduan narkoba. Mencegah hal tersebut, tembok pertama adalah orang tua. Di era milenial saat ini tugas dan tanggung jawab orang tua menjadi lebih berat, karena pengaruh lingkungan sangat besar terhadap tumbuh kembang anak.

Mau tidak mau, orangtua harus meningkatkan pengawasan terhadap pergaulan anak, menjalin komunikasi yang baik guna memberi pemahaman tentang bahaya yang sedang menghadang mereka. Bukan hanya keluarga, semua elemen juga bertanggung jawab memberi pendidikan pada generasi muda, baik guru, tokoh agama, maupun tokoh masyarakat. Bila tidak, zamanlah yang akan mendidik karakter dan moral mereka. **