Tuesday, 11 December 2018

Kapolsek Ini Menyamar jadi Kenek

Jumat, 12 Oktober 2018 — 6:02 WIB
Kapolsek Kompol Siswo bertekad Bantagebanh bebas  pemalak (saban)

Kapolsek Kompol Siswo bertekad Bantagebanh bebas pemalak (saban)

MENDENGAR nama Bantargebang, orang akan membayangkan tumpukan sampah yang menggunung. Tiap hari berseliweran armada truk pengangkut barang rongsokan dan limbah rumah tangga asal Jakarta. Di tempat itu pula preman kerap beraksi.

Aroma bau seketika menyengat di Tempat Pembuangan Akhir Sampah (TPAS) Bantargebang. Areal ini berada di hamparan tanah 108 hektar lebih meliputi tiga kelurahan, Cikiwul, Ciketingudik dan Sumurbatu. Kini, kawasan Bantargebang berkembang pesat.

Sejumlah hunian, industri dan jasa perdagangan kini berebut lahan di kawasan ini. Seiring itu, sejumlah kelompok preman bermunculan. Mereka mengatasnamakan ormas, karang tarunan dan lainnya meminta uang kepada pengusaha dan sopir truk yang lalu lalang di kawasan.

Ulah preman kampung ini, bila dibiarkan membuat investor lari dan dikhawatirkan Bantargebang kembali manjadi daerah kumuh dan tertinggal. Tak mau itu, terjadi Kompol H Siswo, Kapolsek Bantargebang merespon ulah preman itu. Dia gencar menggelar razia dan melakukan pendekatan ke sejumlah pentolan preman.

“Tugas kepolisian saat ini bergeser dari sebelumnya penegakan peraturan dengan tegas, sekarang harus humanis, membaur dan berada di tengah masyarakat,” ujarnya. Kompol Siswo yang pernah mendapat penghargaan sebagai kapolsek terbaik se-Polda Metro Jaya mengatakan, kapolsek itu, seperti Kapolri di tingkat kecamatan.

KAPOLSEK ‘SAMPAH’

“Polsek, garda terdepan aparat kepolisian menjaga berbagai gangguan Kamtibmas dan memberikan pengayoman kepada masyarakat,” tandasnya. Periwira yang meniti karier dari bawah ini mendapat pangkat komisaris polisi melalui Secapa. Sebelum menjadi Kapolsek, dia banyak berkiprah di Polantas. Pada 2017 dia diberi wewenang membawahi Kapolsek ‘sampah’, sebutan untuk kawasan Bantargebang.

Diakui bapak tiga ini, banyak ragam kasus di tempat ini.. Wilayah ini berbatasan langsung dengan Bogor dan Kabupaten Bekasi dan memiliki karasteristik masyarakatnya begitu heterogen “Premanisme menjadi ‘pekerjaan’ sehari-hari warga yang tidak punya penghasilan,” jelas Siswo.

Sebagai langkah antisipasi, dia bersama anggotaanya kerap menggelar razia preman, tapi tak membuahkan hasil maksimal. Begitupula dengan pendekatan humanis. Dia pun memutar otak dengan mengajak anggotanya Unit Reskrim menyamar sebagai kernet truk. Beberapa kali penyamaran dilakukannya. Dia pun berhasil menangkap sejumlah preman sekaligus membuat jerah pemeras pengusaha dan awak truk.

Kegeraman kapolsek terhadap para preman ini muncul saat sejumlah pengusaha yang menanamkan investasi di wilayahnya ‘diganggu’ dengan pungutan liar. “Bagaimana tidak malu, mereka sudah bayar pajak mencoba memberi lapangan pekerjaan, tapi diganggu,” katanya.

Tindakan Kompol Siswo ini mendapat apresiasi dari sejumlah pengusaha dan awak truk muatan material bangunan dan barang jasa lainnya. Mereka kini nyaman dan aman menjalankan bisnisnya, tanpa diganggu preman yang meminta jatah sebagai uang koordinasi, keamanan dan uang retribusi jalan. (saban/iw)