Tuesday, 16 July 2019

Sebut Indonesia Makin Miskin, Prabowo Dianggap Berbohong atau Salah Data

Jumat, 12 Oktober 2018 — 9:50 WIB
Capres No.02   Prabowo Subianto bersama Ketua Umum LDII KH Abdullah Syam diacara Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII).(rihadin)

Capres No.02 Prabowo Subianto bersama Ketua Umum LDII KH Abdullah Syam diacara Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII).(rihadin)

JAKARTA – Partai Solidaritas Indonesia (PSI) membantah pernyataan calon presiden Prabowo Subianto yang menyebut rakyat Indonesia semakin miskin karena nilai tukar rupiah terhadap dolar AS semakin merosot.

Juru Bicara PSI, Dedek Prayudi menganggap pernyataan Prabowo dapat menyesatkan informasi kepada masyarakat sehingga perlu diluruskan.

Dia juga menilai Ketua Umum Partai Gerindra itu tengah berbohong atau mendapatkan masukan data yang salah saat pidato di Rakernas LDII di Pondok Pesantren Minhajurrosyidin, Pondok Gede, Jakarta Timur, Kamis (11/10/2018).

“Kami tak paham, ini adalah konsistensi dalam kengawuran atau kebohongan secara terus-menerus. Kebohongan maupun kengawuran ini perlu diluruskan,” ujarnya kepada wartawan, Jumat (12/10/2018).

Dedek mengungkapkan anggapan Prabowo bahwa Indonesia makin miskin tidak berdasarkan Badan Pusat Statistik (BPS) maupun Bank Dunia.

Menurutnya angka kemiskinan justru terus turun sejak era reformasi. Pada Februari 2018, imbuhnya angka kemiskinan bahkan menyentuh level terendah sepanjang sejarah bangsa, yakni dibawah 10%.

“Dalam menyebut Indonesia semakin miskin, beliau mengatakan pendapatan rakyat tetap sama, nilai Dollar naik. Ini adalah definisi operasional kemiskinan yang ia karang sendiri, cocokologi yang menghianati kaidah ilmu ekonomi,” tandasnya.

Anggota Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi – Ma’ruf itu menerangkan menurut BPS, Bank Dunia, maupun CIA Factbook, pendapatan perkapita tumbuh terus. Ia mencontohkan berdasar BPS, kenaikan terjadi dari Rp. 41 juta/tahun pada 2014, menjadi Rp. 47 juta/tahun pada 2017.

“Perlu dicatat, pada 2014, ketimpangan untuk pertama kali turun sejak Indonesia keluar dari krisis ekonomi, menurut data Bank Dunia dan BPS. Daya beli juga dilaporkan meningkat setiap triwulannya sekitar 5%,” imbuhnya.

Dedek berharap agar Prabowo – Sandi lebih jujur dan lebih mendidik dalam mempengaruhi opini publik. Pasalnya, kontestasi Pilpres menurutnya bukan hanya soal menang kalah namun juga pendidikan politik bagi masyarakat.

“Dulu disebut kemiskinan meningkat 50%, sebelumnya disebut LRT kita paling mahal dan pengerjaannya penuh mark up, ternyata semua bohong. Pilpres bukan hanya soal menang kalah, tapi juga ajang pendidikan politik publik,” pungkasnya. (ikbal/tri)