Tuesday, 20 November 2018

SANTRI KEHIDUPAN

Senin, 22 Oktober 2018 — 8:30 WIB

Oleh H. Harmoko

ADA suatu masa ketika masyarakat di Jawa digolongkan dan dipisahkan dalam tiga kelompok, yakni Abangan, Santri dan Priyayi. Yang menggolongkan itu adalah Clifford Gerts serang antropolog berpengaruh, lewat bukunya, ‘The Religion of Java’ – yang bertahun- tahun menjadi rujukan para akademisi dan mahasiswa ilmu sosial di seluruh dunia.

Kini kategorisasi tiga kelompok itu, tidak relevan dengan perkembangan modern, perkembangan zaman ini, karena ketiganya sudah membaur sebegitu rupa

Para priyayi yang identik dengan orang- orang yang dekat dengan kraton, kaum Ambtenaar alias pejabat dan pegawai pemerintah, sudah terjun ke bisnis, mengembangkan jiwa wira usaha dan sebagianya menjadi santri

Para santri tak lagi hanya memikirkan dakwah, “mempromosikan”  surga dan nilai- nilai keilahian semata, melainkan juga mengincar kedudukan eksekutif dan legislatif, menjadi ambtenaar.

Sedangkan kaum abangan melakukan semuanya, dia menjadi petani, pedagang, meningkatkan pendidikan sehingga bisa menembus eksekutif sebagai ambtenaar dan mendalami agama, ikut pengajian, pergi haji, yang selama ini menjadi kegiatan rutin dan obsesi kaum santri.

Khusus membahas kaum santri, kini mereka tidak terkucil dan termarjinalkan. Modernisasi pendidikan telah melahirkan tokoh-tokoh kaliber nasional dan internasional.
K.H. Hasyim Asy’ari, Abdul Wahid Hasyim, M. Natsir, HAMKA, KH Idham Khalid, Nurcholis Madjid. Bahkan Kyai Haji Abdurrahman Wahid alias Gus Dur menjadi pemimpin negeri ini.

Tokoh -tokoh ini telah menyadarkan kita semua pada potensi santri dan intelektual di pesantren serta potensi kepemimpinan mereka, serta sumbangan besar mereka bagi negeri. Dalam masa awal terbangunnya negeri ini, ada peran penting para ulama bersama para santrinya berjuang membela negara dari ancaman penjajah sesuai ajaran dan anjuran agamanya.

Ulama Indonesia sangat jelas perannya dalam merencanakan dan memperjuangkan kemerdekaan.

Tujuh puluh tiga tahun kemerdekaan bangsa ini, peran ulama sebagai pejuang kemerdekaan dan pembangunan mendapatkan pengakuannya, dengan terwujudnya “Hari Santri Nasional.”

Ketika kehidupan santri larut dalam kehidupan masyarakat umumnya – tak lagi terpisah dan terisolasi sebagaimana masa lalu – sebagai kaum sarungan dan kerudung, maka menjadi momentum tepat untuk meningkatkan peran santri dalam pembangunan nasional.  Penampilan sarungan dan kerudung pun sudah termodifikasi dan menjadi trend mode. Juga jiwa santri dalam kehidupan bangsa.

“Hari Santri” tak lagi milik organisasi masyarakat tertentu. Hari santri kini menjadi milik semua bangsa Indonesia.

Menyambut “Hari Santri” tanggal 22 Oktober tahun 2018 ini, mari kita memaknai hakikat hari santri lebih luas dan bermakna.  Bahwa sesuai sila pertama, Ketuhanan yang Maha Esa, dengan segala perintah dan pengalamannya, hakekat santri bisa diperluas bagi semua pemeluk agama. Bukan muslim semata.

Mementum hari santri ini adalah momentum kita memperbaharui komitmen, apakah Anda terlahir sebagai abangan ataupun priyayi – terlebih-lebih lahir dari keluarga santri – Anda semua akan menjadi santri bagi kehidupan. *