Wednesday, 14 November 2018

Empat Spesies Hewan yang Racunnya Dimanfaatkan Sebagai Obat

Rabu, 24 Oktober 2018 — 7:32 WIB
ularberbisa

INGGRIS– Bahaya dari bisa binatang telah dikenal dengan baik, tapi racun-racun yang mematikan ini juga dapat menyelamatkan nyawa.

Toksikolog Dr Zoltan Takacs mengatakan: “Bisa binatang adalah satu-satunya senyawa kimia di Bumi yang secara eksplisit dipilih oleh evolusi untuk membunuh dalam waktu kurang dari satu menit”.

Pada 2015, David Warrell, spesialis kedokteran tropis di Universitas Oxford, memperkirakan bahwa ada 200.000 kematian per tahun yang disebabkan oleh gigitan ular.

Perkembangan obat penawar racun adalah perjuangan yang masih terus berlanjut, namun demikian para peneliti menemukan bahwa zat racun yang ditemukan dalam bisa binatang juga dapat membantu mengobati kondisi medis lainnya. Beberapa obat berbasis bisa binatang juga sudah digunakan.

Berikut ini empat spesies yang racunnya dimanfaatkan oleh manusia.

Ular

 

ular-yarara
Bisa ular adalah istilah yang mencakup beragam racun yang berbeda. Sebagian membunuh dengan cepat sementara yang lain butuh waktu.

Sebagian besar ular menyalurkan racun mereka melalui taring yang beroperasi dengan cara yang mirip jarum suntik. Setelah taring itu menusuk daging korban mereka, racun itu dikirim melalui gigi dan langsung ke aliran darah mangsanya — kecuali pada ular yang meludahkan racun mereka, seperti kobra Mozambik (Naja mossambica).

Karena ada berbagai macam bisa, potensi aplikasi medis setiap jenis ular pun berbeda. Saat ini zat racun yang diambil dari ular digunakan dalam bidang medis koroner.

“Bisa ular berfungsi sebagai templat untuk beberapa obat populer yang digunakan oleh penderita tekanan darah tinggi, gagal jantung, dan serangan jantung,” jelas Takacs.

“Ular berbisa Yarara (Bothrops jararaca), yang merupakan sumber golongan obat inhibitor angiotensin-converting enzyme (ACE), bisa dibilang telah menyelamatkan lebih banyak nyawa manusia daripada hewan lain dalam sejarah umat manusia.”

Komodo

 

komodo

Komodo diklasifikasikan sebagai spesies yang rentan, jadi upaya konservasi diperlukan untuk menjaga populasinya tetap stabil.

Cara kerja kelenjar bisa Komodo berbeda dengan ular. Tidak seperti ular yang beraksi seperti jarum suntik, Komodo menggunakan metode yang mengalir keluar.

Bisa diperas keluar dari beberapa ‘kantong’ di antara gigi-gigi reptil itu ketika rahangnya menjepit ke bawah ke mangsanya. Bisa bercampur dengan darah mangsa dan mencegah darah itu membeku. Inilah sebabnya mengapa mangsa mereka terus mengalami pendarahan setelah serangan terjadi.

Meskipun mematikan, sifat antikoagulan dari bisa ini menjadi kunci dalam potensi penggunaan medis.

Zat racun ini dapat diaplikasikan dalam mengobati stroke, serangan jantung, dan emboli paru, yang semuanya dapat berakar dari pembekuan darah.

Kalajengking

 

kalajengking

Bisa dari kalajengking Deathstalker adalah salah satu bisa kalajengking yang paling ampuh.

Lebih dari 1,2 juta orang disengat kalajengking setiap tahun, yang menyebabkan sekitar 3.250 kematian menurut studi pada 2008.

Selain nama yang menakutkan, kalajengking deathstalker (Leiurus quinquestriatus) dapat memainkan peran penting dalam mengobati kanker.

Bisa kuat deathstalker mengandung racun yang disebut Chlorotoxin yang sedang dikembangkan untuk mendiagnosis kanker dan mengobati tumor.

Celurut Ekor-Pendek Utara

 

celurut

Karena Celurut Ekor-Pendek Utara tidak hibernasi, populasinya secara drastis berkurang selama musim dingin.

Bisa biasanya tidak ditemukan pada mamalia, dan meskipun bisa celurut ini tidak cukup kuat untuk membunuh manusia, ia akan menyebabkan rasa sakit dan bengkak.

Celurut berbisa ini mungkin tidak menarik bagi publik, tapi sangat menarik bagi komunitas ilmiah. Alasannya: bisanya sedang dieksplorasi untuk digunakan dalam perawatan kanker.

Takacs mengatakan hal ini memungkinkan karena beberapa sel tumor mengekspresikan molekul yang strukturnya sangat mirip dengan target alami zat racun tersebut.

“Dengan memanfaatkan kemiripan ini, maka masuk akal untuk mengubah racun menjadi agen terapeutik atau diagnostik untuk kanker.” (BBC)