Tuesday, 20 November 2018

SELAMAT BEKERJA

Kamis, 25 Oktober 2018 — 7:59 WIB

Oleh H.Harmoko

PERAN Indonesia dalam mewujudkan ketertiban dan perdamaian dunia, sudah teruji. Tak satu pun negara menyangsikan. Bahkan, pasukan Indonesia yang melakukan misi perdamaian, di mana pun ditempatkan selalu mendapat pujian dunia, tak terkecuali AS, Inggris dan Prancis.

Indonesia terlibat aktif sebagai pasukan misi perdamaian dunia, bukan semata karena penugasan, bukan pula bentuk toleransi, tetapi atas kesadaran yang telah terpatri sejak berdirinya negeri ini.

Leluhur negeri telah menitipkan pesan moral tinggi seperti tertulis dalam alinea IV Pembukaan UUD 1945. Sebagai bangsa yang merdeka, Indonesia diamanatkan untuk senantiasa turut andil dalam melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial.

Tentara kita pertama kali ikut menjaga perdamaian dunia pada 8 Januari 1957 saat terjadi pergolakan di Gurun Sinai. Saat itu, Inggris, Prancis, dan Israel melancarkan serangan gabungan terhadap Mesir sehingga menimbulkan perdebatan di antara negara anggota sampai akhirnya PBB membentuk pasukan pemelihata perdamaian di Timur Tengah dengan nama United Nations Emergency Forces (UNEF).

Indonesia mendukung dengan mengirimkan pasukan perdamaian yang diberi nama Misi Garuda I di bawah pimpinan Letnan Kolonel Infantri Hartayo.

Sejak itulah Indonesia selalu aktif bergabung dalam pasukan penjaga perdamaian dunia. Sudah lebih dari 38.000 prajurit Kontingen Garuda dikirim ke sejumlah negara yang dilanda konflik.
Kini Indonesia pun masuk dalam jajaran 10 besar negara pengirim pasukan perdamaian.
Agustus lalu, Indonesia mengirim 850 personel satuan tugas batalion gerak cepat ke Kongo dan 120 personel satuan tugas maritim TNI ke Lebanon.

Ini penugasan berskala besar yang pertama bagi Indonesia sejak menjadi anggota PBB, 68 tahun lalu, tepatnya pada 28 September 1950.

Berkenaan peringatan Hari PBB ( UN Day) yang diperingati setiap tanggal 24 Oktober, PBB memberikan penghargaan tertinggi “UN Medal” kepada Kontingan Garuda yang bertugas di Lebanon.

Ini bukti prestasi. Kontingen Garuda mampu berbaur dengan masyarakat, menghargai adat istiadat lokal sehingga kehadirannya sangat dibutuhkan masyarakat yang negaranya sedang dilanda konflik.

Indonesia juga kembali terpilih menjadi anggota tidak tetap Dewan Keamanan (DK) PBB periode 2019-2020. Ini keanggotaan untuk yang keempat kalinya. Sebelumnya pada periode 1973- 1974, 1995- 1996, dan 2007 -2008 bersama negara lain seperti Jerman, Belgia, Afrika Selatan, dan Republik Dominika.

Kepercayaan dunia ini hendaknya dijadikan peluang bagi Indonesia untuk lebih menujukkan jati dirinya sebagai negara anti -penjajahan dan penindasan. Dapat lebih vokal menyuarakan nilai-nilai kebenaran dan keadilan.

Setidaknya terdapat tiga peluang yang bisa dilakukan.

Pertama, mengerahkan segala daya dan upaya mendukung kemerdekaan Palestina. Mendesak Israel agar tidak lagi menjajah wilayah yang memang menjadi teritori Palestina.

Momen tepat untuk memanfaatkan celah di saat PBB sangat bias menyikapi isu Israel seperti sekarang ini dengan melobi negara yang memiliki concern yang sama untuk menggolkan resolusi kemerdekaan Palestina.

Kedua, kembali menggulirkan perlunya reformasi di Dewan Keamanan PBB. Indonesia bisa menggulirkan agar keanggotaan DK PBB diperluas. Tidak hanya 5 negara yang sejak PBB didirikan tak pernah berubah dan bertambah, yakni Amerika Serikat, Inggris, Prancis, RRT, dan Rusia.

Negara yang saat ini duduk sebagai anggota tetap adalah mereka yang memenangkan perang. Padahal, konteks di zaman dulu dengan sekarang sudah sangat jauh berbeda.

Ketiga, mengenai pemberantasan terorisme dan ekstrimisme. Indonesia mengusulkan agar terbentuk pendekatan komprehensif untuk melawan terorisme, radikalisme dan ekstrimisme. Pola penanganan bisa diarahkan melalui pendekatan kemanusiaan seperti program deradikalisasi yang sudah diterapkan negara kita.

Kita, rakyat dan pemerintah Indonesia sangat yakin mampu membuat langkah besar dan mengukir sejarah baru di kancah dunia.

Tidak kalah pentingnya adalah mengukir prestasi di dalam negeri sebagaimana tujuan khusus berdirinya negeri ini, yakni menjamin dan melindungi hak-hak asasi manusia para warganya terutama dalam kaitannya dengan kesejahteraan hidupnya baik jasmani maupun rohani sebagaimana makna Pembukaan UUD 1945. Selamat bekerja. *