Tuesday, 20 November 2018

Kok Main Bacok Bagian Perut? Padahal Urusan Bawah Perut

Jumat, 26 Oktober 2018 — 6:49 WIB
gaeleee

SUDAH kakek-kakek, Mbah Ngasiyun, 72, masih ribut urusan cewek. Tapi ya bagaimana, Nurwanti, 40, istrinya yang cantik itu diselingkuhi Mangudi, 54, tetangganya. Maka pas PIL istrinya tidur dibacok bagian perutnya hingga luka berat. Tetangga pun heran, urusan bawah perut kok main bacok perut?

Ada yang bilang, kaum Adam itu urusan asmara cinta tak ada matinya. Meski sudah kakek-kakek pun gairah lelakinya masih menguat dan butuh penyaluran. Maka jika kakek-kekek nampak mengangguk-anggukkan kepala, itu isyarat bahwa dia masih mengajak, karena doyan. Tapi meski doyan, andaikan kawin lagi seyogyanya cari pasangan yang seimbang, jangan terlalu njomplang perbandingan usia.

Mbah Ngasiyun yang tinggal di Jenu Kabupaten Tuban (Jatim), agaknya termasuk lelaki yang “ora nyebut” (tak tahu diri). Ketika mau kawin lagi karena istri meninggal, masih juga mencari yang masih kinyis-kinyis. Lima tahun lalu, Nurwanti adalah janda berusia 35 tahun, sementara Mbah Ngasiyun sudah berusia 67. Bayangkan, Kijang 90 lawan Inova 2005, yang ngelitik lah!

Ketika usia perkawinan masih 1-2 tahun, tak ada masalah. Gliyak-gliyak (pelan tapi pasti) Mbah Ngasiyun masih bisa membahagiakan istrinya. Gaya apa saja masih bisa mengimbangi, meskipun harus banyak istirahat. “Ngaso sik, tak nata napas (istirahat dulu, mengatur nafas),” kata Mbah Ngasiyun di medan laga.

Tapi makin ke sininya, ketika usianya sudah kepala tujuh, “sonto” Mbah Ngasiyun sudah mulai loyo, tak mampu lagi bicara dalam percaturan ranjang. Nafsu besar, tapi tenaga kurang. Kalau mobil, ganti “matahari”-nya bisa kenceng lagi. Lha kalau kakek-kakek, mau diganti onderdil apa?

Sejak itu Mbah Ngasiyun sudah mulai non aktif. Padahal sebaliknya dengan istri, dalam usia menjelang 40, Nurwanti sedang hot-hotnya. Namun apa daya, ibarat mobil kini dia dibiarkan nganggur di garasi, tak pernah dipanasi, tak pernah dicek dia punya aki. Kalau mobil beneran, masih bisa dibuka kapnya, lha kalau perempuan emak-emak?

Adalah tetangga Mbah Ngasiyun, namanya Mangudi pria yang sudah beristri dan bercucu. Sebagai pengamat perempuan, dia melihat bahwa Ny. Nurwanti adalah masuk kategori perempuan jablai (jarang dibelai), yang kalau mau sedikit bersastra-sastra bisa disebut wastra lungsed ing sampiran (kain bulukan digantung).

Sebagai lelaki bakat petualangan, diam-diam Mangudi mendekati Nurwanti. Ternyata benar, buktinya emak-emak ini langsung nyosor saja. Maka selanjutnya Mangudi ini lebih gesit ketimbang Capres Prabowo. Jika “Generasi Emas” Capres No. 02 itu sebatas generasi emak-emak dan anak minum susu, Mangudi sudah lebih dulu menikmati susu emak-emak!

Bagaimana selanjutnya Mangudi – Nurwanti berbagi asmara dan cinta, itu urusan mereka berdualah. Yang jelas, belum juga lama mereka berdua-dua bagaikan Rama dan Sinta, Mbah Ngasiyun mencium praktek perselingkuhan istrinya itu. Ada “mata elang” yang menginformasikan, yang berdasarkan kapasitasnya, tak mungkinlah hoaks!

Tentu saja Mbah Ngasiyun marah besar, ada lelaki “outsorching” dalam ranjangnya. Melawan langsung jelas tak mampun, karena pasti kehabisan napas. Maka dia mau cari lengahnya saja untuk membalas dendam. Dan peluang itu tiba beberapa hari lalu. Pas Mangudi tidur siang di emperan rumah dalam posisi telentang, langsung saja dibabat perutnya. Gegerlah warga Desa Jenggolo. Sementara Mangudi dilarikan ke Rumah Sakit, Mbah Ngasiyun ditangkap Polsek Jenu.

Mbah Ngasiyun mabok, kayak ikan kena jenu (tuba). (Gunarso TS)