Thursday, 17 January 2019

Kurang Garam dan Kurang Asin

Sabtu, 27 Oktober 2018 — 7:50 WIB
dulkarung-ini

Oleh S Saiful Rahim

“MAS Wargo, singkong gorengnya kurang asin nih. Nanti Dul Karung pasti marah, lho” kata salah seorang hadirin warung kopi Mas Wargo yang duduk di ujung kanan bangku panjang.

Dari logatnya mudah diketahui bahwa dia satu suku dengan Mas Wargo. Orang Tegal seratus persen yang sering heran mendengar orang menyebut semua warung kopi atau warung makan di kaki lima dengan sebutan “Warung Tegal.” Padahal ada pula yang milik orang Pekalongan, atau bahkan orang Solo atau Yogya asli yang berkasta karena memiliki keraton itu.

“Coba, cobain Dul!” perintah orang yang duduk di dekat pintu masuk seraya bergeser berbagi tempat dengan Dul Karung yang baru masuk.

Sebelumnya, ketika Dul Karung memasuki warung dan mengucap assalamu alaykum, dia satu-satunya orang yang tak bisa menjawab salam tersebut. Karena mulutnya penuh singkong goreng.

“Ah, ini bukan kurang asin, tetapi kurang garam,” kata Dul Karung yang tanpa disuruh pun, begitu masuk warung langsung mencomot singkong goring dan mencaploknya..

“Ya kurang asin itu sama dengan kurang garam,” jawab orang yang mula-mula mengomentari singkong goreng salah satu dagangan Mas Wargo.

“Belum tentu,” kata Dul Karung seenaknya.

“Dul kau tahu gak rasa garam? Asin, tahu!”

“Garam memang asin, tetapi tidak semua yang rasanya asin itu garam,” kata Dul Karung lagi sambil mengunyah singkong goreng.

“Maksudmu?” tanya orang yang duduk tepat di sebelah kiri Dul Karung.

“Upil alias ingus kering juga rasanya asin,” kata Dul Karung seenaknya.

“Ih Si Dul ternyata jorok. Suka mencicipi upil,” kata seseorang yang entah siapa dan duduknya di sebelah mana.

“Siapa pun ketika masih kecil, sengaja atau tidak, pasti pernah menjilat ingusnya yang mengalir ke arah bibir,” jawab Dul Karung yakin sekali.

“Ih sudah! Jangan bicara yang menjijikkan di warungku,” sela Mas Wargo yang biasanya tak suka mencampuri obrolan pelanggannya.

“Tenang saja, Mas. Biasanya Mas Wargo arif menahan diri tidak ikut-ikutan ngobrol tanpa ujung pangkal. Mereka itu kan ketularan bapak-bapak yang mengaku, atau ingin dianggap, panutan itu, lho.

Bukankah sekarang ini beliau-beliau yang ingin disebut bapak-bapak yang mulia itu tingkahnya sama persis teman-teman kita ini? Kalau ada yang berkata “A,” yang lain langsung bilang “B.” Lalu hiruk pikuklah negeri,” sela orang yang duduk tepat di depan Mas Wargo.

“Benar sekali, tu. Ada juga yang seperti Dul Karung gemar ngutang,” sambar orang yang duduk selang tiga di kanan Dul Karung.

“Nah, warung Mas Wargo sudah kemasukan “orang sono.” Ngomong asal bunyi saja. Semua orang tahu yang pake kutang itu perempuan, kok aku dibilang suka ngutang,” kata Dul Karung sambil pergi. (Syahsr@gmail.come )