Tuesday, 20 November 2018

Sumpah Pemuda Milenial

Senin, 29 Oktober 2018 — 12:57 WIB

“.. Beri aku 10 pemuda nicaya akan kuguncang dunia…”

Petikan pidato Bung Karno itu sejatinya memberi spirit kepada generasi muda untuk terus maju menyongsong masa depan. Dunia akan terguncang jika pemuda Indonesia memiliki keunggulan.

Jangankan 10 jumlahnya, 1pemuda pun bisa mengguncang dunia karena keunggulannya.

Sudah teruji, pemuda Indonesia berusia 18 tahun, Lalu Muhammad Zohri telah mengguncang dunia. Pemuda desa ini meraih medali emas nomor bergengsi lari 100 meter pada Kejuaraan Dunia Atletik U-20 di Finlandia, 21 Juli lalu. Zohri mampu mengungguli 2 pelari Amerika Serikat, Anthony Schwartz dan Eric Harrison.

Zohri, satu sosok pemuda era kini. Di tengah keterbatasan yang melingkupinya karena bukan dari keluarga berada, tetapi mampu membuat dunia terpana.

Jalan memang penuh liku, tetapi berkat perjuangan tanpa kenal lelah, kegigihan, ketekunan, keuletan, kedisplinan, dan kejujuran inilah dia mengukir prestasi bukanlah mimpi.

Karakter seperti ini pula yang membuat para pemuda zaman dulu mampu menyatukan Indonesia melalui ikrar “Sumpah Pemuda” pada 28 Oktober 1928.

Zaman telah berubah, 90 tahun telah berlalu. Tantangan pemuda zaman dulu tentu sangat berbeda dengan era kini, tetapi spirit perjuangan menuju Indonesia maju dan sejahtera sebagaimana makna Sumpah Pemuda, tidak boleh sirna. Bahkan, nilai – nilai kejuangan tidak boleh stagnan. Spirit harus terus diupdate sesuai dengan perkembangan zaman.

Tantangan pemuda sebelum era kemerdekaan adalah bagaimana menyatukan Indonesia yang terdiri dari 16.056 pulau menjadi satu tanah air yakni Tanah Air Indonesia.

Menyatukan Indonesia yang terdiri dari 1.340 suku bangsa menjadi satu bangsa, yakni Bangsa Indonesia dan menyatukan Indonesia yang memiliki 718 bahasa menjadi satu bahasa persatuan, yakni Bahasa Indonesia Kini sudah terwujud satu tanah air, satu bangsa dan satu bahasa, yaitu Indonesia. Lantas bagaimana yang sudah “Satu” tadi teraplikasi secara nyata dalam kehidupan sehari – hari, bukan sebatas terucap dalam kata, apalagi retorika historia semata.

Kita tentu tidak ingin nilai Sumpah Pemuda lekang oleh zaman. Nilai kebangsaan itu hanya dimaknai sebagai catatan sejarah. Penafsiran makna harus diaktualkan agar tidak terjadi lost generations.

Kemungkinan munculnya embrio generasi yang asing terhadap negerinya sendiri perlu lebih dicegah sejak dini. Lebih – lebih di era digital sekarang ini, generasi muda berada pada situasi yang tidak lagi dibatasi sekat geografis, nation dan bahasa.

Dengan kemajuan teknologi informasi, dalam sekejap mereka bisa “menyatukan” sesama pemuda antarnegara.

Ini tidak dapat dihindari karena generasi muda merupakan pengguna terbesar fasilitas untuk maju. Entah itu yang disebut jaringan internet sekarang, dan entah apa lagi di masa datang. Sekitar 70 persen dari 134 juta pengguna internet di Indonesia sekarang diasumsikan berusia antara 13 hingga 40 tahun. Mereka ini disebut kelompok generasi digital dan milenial.

Yang perlu dilakukan sekarang adalah bagaimana kita lebih bijak dan cermat menyikapi kecanggihan teknologi informasi. Kemajuan teknologi di era digital ini ibarat “pisau bermata dua” bagi generasi muda Indonesia.

Potensial menjadi instrumen pemersatu pemuda dan bangsa, di sisi lain berpotensi juga menjadi pemecah belah anak bangsa.

Sikap bijak dimaksud adalah menggunakan kecanggihan teknologi secara baik dan benar, serta menyelaraskannya dengan etika dan norma.

Sikap cermat adalah memanfaatkan era digital untuk mengembangkan diri, memotivasi kreasi dan inovasi guna mengukir prestasi. Ikut membangun bangsa mewujudkan cita- citanya, yaitu masyarakat sejahtera dan bermoral seutuhnya.

Maknanya, generasi muda Indonesia harus tetap memiliki jati diri, mampu menaklukkan teknologi informasi mutakhir untuk meningkatkan kualitas diri. Bukan sebaliknya terbawa pengaruh arus digital sehingga kehilangan karakter nasional sebagai bangsa yang berbudaya dan bermoral.

Tidak kalah pentingya sikap visioner membangun negeri seperti telah dirintis para pemuda tempo dulu yang kita tahu dipesankan lewat lagu ” Bangun Pemudi Pemuda” karya A.Simandjuntak.

Berikut cuplikan liriknya;
“Bangun pemudi pemuda Indonesia
Tangan bajumu singsingkan untuk negara
Masa yang akan datang kewajibanmulah
Menjadi tanggunganmu terhadap nusa
Menjadi tanggunganmu terhadap nusa..”
(*)