Wednesday, 21 November 2018

RUPIAH KITA

Kamis, 1 November 2018 — 6:55 WIB

Oleh H.Harmoko

” Memang karena rupiah
Orang menjadi megah
Kalau tidak ada rupiah
Orang menjadi susah..”

CUPLIKAN lirik lagu berjudul “Rupiah ” yang dinyanyikan Rhoma Irama ini cukup fenomenal.
Tak ubahnya makna “Rupiah” itu sendiri yang akan selalu fenomenal dan aktual sepanjang masa di negeri kita.
Belakangan ini rupiah makin sering menjadi topik bahasan dengan beragam sudut pandang menyusul melemahnya nilai tukar terhadap mata uang asing, dolar AS.
Dampak melemahnya rupiah jadi satu perbincangan mulai dari warung kopi pinggir jalan, hotel bintang lima, bahkan hingga istana. Mulai dari ibu rumah tangga yang  repot mengatur  rupiah, rakyat jelata yang sulit mendapatkan rupiah hingga pejabat negara yang mencari cara menguatkan rupiah.

Rupiah melemah sejak awal Juli tahun ini hingga menembus Rp15.000 per dolar AS pada Selasa malam (4 September ) lalu. Pada 23 Oktober 2018, kurs jual US$ 1 terhadap rupiah, yaitu Rp 15.284 dan kurs beli Rp 15.132.
Bahkan, menyongsong Hari Keuangan yang diperingati setiap tanggal 30 Oktober ( tepatnya 30 Oktober 1946 – saat diresmikannya Rupiah sebagai alat pembayaran yang sah), kurs rupiah terhadap dolar AS, justru duit Paman Sam itu malah bertengger di atas Rp15.000.

Lepas apakah melemahnya rupiah lebih karena disebabkan faktor eksternal seperti adanya perang dagang AS – China, tetapi depresiasi nilai tukar telah memberikan pengaruh negatif kepada pelaksanaan APBN. Ketika rupiah mengalami depresiasi, maka belanja bunga utang luar negeri akan meningkat.
Bank Indonesia merilis data Utang Luar Negeri (ULN) Indonesia periode akhir Mei 2018 sebesar US$ 358,6 miliar atau setara dengan Rp 5.127,98 triliun (kurs Rp 14.300) tumbuh 6,8% dibandingkan periode bulan sebelumnya.

Melemahnya rupiah akan berdampak luas. Dari sisi rumah tangga ukuran tempe yang makin kecil dan tipis, hingga kenaikan harga produk.
Belum lagi pelaku usaha yang terkena kenaikan ongkos kirim bahan baku impor. Ujung -ujungnya masyarakat juga yang menerima getah akibat kenaikan harga barang. Misalnya produk industri tekstil sekitar 70 persen bahan bakunya impor, juga industri farmasi.

Melemahnya rupiah bukan kali pertama. Sejak awal kemerdekaan hingga era reformasi ini sudah berulang kali rupiah terdeprisiasi.
Tercatat dalam sejarah melemahnya rupiah berimplikasi sangat luas kepada kehidupan berbangsa dan bernegara yang berujung kepada pergantian kepemimpinan nasional.

Pemerintahan siapa pun tentu tidak ingin mengulang peristiwa buruk masa lalu. Berbagai langkah terus diupayakan agar rupiah keluar dari jerat dan kendali mata uang asing, khususnya dolar AS. Tapi usaha dan realita masih tetap jauh berbeda.
Rupiah harus kuat. Masyarakat bermartabat dan negara berdaulat. Itulah jawab yang kini masih saja hanya menjadi impian.
Kita semua  tahu pada rupiah terkandung nilai kejuangan dan nasionalisme. Rupiah lahir lewat sebuah proses perjuangan panjang The Founding Fathers hingga terbitlah ORI (Oeang Republik Indonesia) setahun setelah merdeka.

ORI diresmikan sebagai alat pembayaran yang sah pada 30 Oktober 1946. ORI tampil pertama kali dalam bentuk uang kertas bernominal satu sen dengan gambar muka keris terhunus dan gambar belakang teks UUD 1945.
Dalam perkembangannya, mata uang negeri kita diberi nama rupiah yang berasal dari bahasa Sansekerta “rupiya” atau “rupyakam”  yang berarti “perak”.

Para pendiri bangsa dengan sekuat tenaga dan pikiran berupaya menyingkirkan gulden dan yen saat itu. Beliau ingin melihat rupiah berkibar dan menjadi tuan rumah di negeri sendiri, dan tamu terhormat di negeri orang.

Cita- cita luhur ini bukanlah mimpi, jika kita semua mampu meresapi makna di balik simbol burung Garuda yang tertera di mata uang kita.
Tugas negara membangun masyarakatnya cinta dan bangga terhadap rupiah. Perlu kiranya gerakan moral cinta rupiah: Masyarakat bermartabat, jika bangga dengan rupiah.Orang hebat, jika mencintai rupiah.

Gerakan ini perlu mengingat masih adanya sebagian masyarakat yang mendewakan mata uang Paman Sam. Mereka merasa bangga, lebih bergengsi jika bertransaksi dengan dolar AS. Lebih prestise, jika dalam dompetnya penuh dolar.

Melakukan perubahan memang tidaklah mudah. Perlu proses panjang penyadaran, apalagi menyangkut pola dan perilaku gaya hidup manusia.
Setidaknya beberapa hal bisa dicoba  agar rupiah menjadi kebanggaan anak negeri sebagai pemiliknya, bahkan penciptanya.

Pertama, menggulirkan semacam “pemaksaan” melalui kebijakan yang mewajibkan  setiap transaksi di dalam negeri menggunakan rupiah, sekalipun dengan pihak asing. Ini bisa diterapkan di daerah wisata, kawasan kuliner, dan tempat lain yang dikunjungi turis mancanegara. Kawasan pertokoan tak ada lagi yang memasang label harga dengan mata uang asing.

Kedua, mengurangi konsumsi produk impor untuk mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS atau mata uang asing lainnya. Ini akan memberi andil besar dalam upaya menguatkan nilai tukar rupiah.

Ketiga, mengubah gaya hidup dari bangga produk impor menjadi cinta produk dalam negeri.
Perlu gerakan moral membuat malu bagi sebagian masyarakat yang masih sering memamerkan barang impor miliknya. Dengan membeli produk impor berarti menguatkan mata uang asing.

Melalui gerakan cinta produk dalam negeri akan menguatkan rupiah. Juga mendorong peningkatan produktivitas, membangkitkan ekonomi kerakyatan yang pada gilirannya memeratakan pendapatan dan meningkatkan kesejahteraan. Yakinlah! ( *)