Wednesday, 21 November 2018

Memaksa Pengendara Patuh Hukum

Jumat, 2 November 2018 — 4:50 WIB

OPERASI Zebra 2018 yang digelar oleh jajaran Polda Metro Jaya hari ini, Jumat (2/11/2018) sudah memasuki hari ketiga. Jumlah pengendara yang melanggar lalu lintas (lalin) melonjak dibanding tahun sebelumnya. Hari pertama saja Polda Metro Jaya menindak 8.207 pelanggar lalin.

Tahun lalu, pada periode sama atau hari pertama operasi, tercatat ada 8.064 pengendara yang ditindak. Artinya, ada kenaikan yang cukup signifikan pada angka pelanggaran lalu lintas. Gambaran ini menunjukkan, etika dan perilaku berkendara dari tahun ke tahun bukannya semakin baik, sebaliknya malah kian parah.

Gambaran ini menunjukkan betapa mental pengendara di Indonesia kian rendah. Melanggar lalin dianggap hal yang lumrah. Bahkan ada fenomena menarik, yaitu komunitas pengendara kompak saling berbagi informasi tentang operasi atau pun razia yang sedang dilakukan polisi. Bukan mengingatkan supaya selalu disiplin dalam berkendara, melainkan mengingatkan agar menghindari razia.

Disiplin baru bisa ditegakkan bila ada polisi berjaga di jalan raya. Bila tidak ada petugas, pengendara terutama roda dua, berubah menjadi ‘raja jalanan’, sesuka hati berkendara tanpa etika, melawan arus, menerobos lampu merah, hingga mengancam nyawa sendiri maupun nyawa orang lain. Mereka lebih takut melihat polisi, tapi tak takut mati.

Dalam konteks penegakan hukum, Operasi Zebra, Operasi Simpatik, Operasi Patuh Jaya, atau operasi apa pun yang digelar kepolisian, diakui bisa menekan angka pelanggaran. Tetapi sifatnya hanya instan karena selesai operasi digelar, pelanggaran kembali marak. Artinya, dalam konteks penegakan disiplin tidak berhasil.

Operasi bukan satu-satunya solusi menekan pelanggaran. Hal yang paling penting adalah bagaimana membangun kesadaran, mengubah perilaku supaya taat hukum dan memahami etika berlalu lintas. Pengendara patuh aturan bila melihat ada petugas. Karenanya, tindakan preventif dengan cara menempatkan personel di setiap sudut perempatan jalan.

Bila cara preventif gagal dilakukan, maka tindakan represif harus dikedepankan. Agaknya penegakan hukum menjadi solusi yang paling tepat untuk memaksa pengendara patuh aturan. Sebetulnya, konsep Electronic Traffic Law Enforcment (E-TLE) di mana pelanggar lalin bisa terdeteksi melalui CCTV, saat ini sudah sangat dibutuhkan mengingat pelanggaran ada di mana-mana. Tapi hingga kini belum juga terealisasi.

Sementara menunggu entah kapan E-TLE diterapkan, makan penempatan petugas di titik rawan pelanggaran jadi jalan satu-satunya memaksa pengendara patuh hukum. **