Wednesday, 14 November 2018

Bukan Hanya Ulama, Koruptor Juga Berperan di Parlemen

Sabtu, 3 November 2018 — 7:05 WIB
sentilan dpr korup

KEMARIN Wakil Ketua MP Hidayat Nur Wahid mengatakan, ulama  berperan menjaga NKRI melalui parlemen. Tapi bersamaan dengan itu, Wakil Ketua DPR Taufik Kurniawan juga menjadi tersangka KPK. Dan ini memang sudah lagu lama di parlemen, banyak politisi yang dikandangi KPK karena “berperan” jadi koruptor di Senayan.

Ketika menerima peserta program Pendidikan Kaderisasi Ulama (PKU) Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Bogor, Wakil Ketua MPR mengingatkan bahwa  ulama punya peran untuk menjaga NKRI. Sejak jaman Orba itu sudah terjadi. Lewat PPP  banyak ulama berkiprah sebagai politisi, misalnya Ismail Hasan Metareum (Ketum PPP) yang menjadi  Wakil Ketua DPR (1992-1997). Juga Idham Khalid yang menjadi Ketua MPR-DPR (1971-01977), dan masih banyak lagi.

Ucapan  HNW itu menjadi “kontradiktif” ketika hari-hari ini ada tersangka kasus korupsi masih berperan di DPR. Sebut saja Taufik Kurniawan Wakil Ketua DPR dari PAN, kini jadi sorotan, sebab sudah jadi tersangka KPK tapi masih bertahan di DPR. Tapi mau apa lagi, karena Ketua DPR Bamsut  justru “membesarkan hati” sang tersangka untuk tidak mundur dari DPR.

Ini mestinya berkaca pada kasus Mensos Idrus Marham. Baru dapat bocoran akan jadi tersangka KPK, langsung mengundurkan diri jabatannya.  Lha kok ini boro-boro mundur, sudah dua kali dipanggil KPK saja tidak atau belum mau datang. Sebagaimana dikatakan KPK, Taufik Kurniawan diduga menerima “komisi”penyaluran DAK (Dana Alokasi Khusus)  senilai Rp 3,65 miliar dari Bupati Kebumen.

Dalam kasus korupsi Kepala Daerah  KPK bisa mencatat Bupati Cirebon Sunjaya sebagai yang ke-100. Tapi bagaimana  dengan politisi DPR? Rekapnya dari era reformasi belum ada, tapi yang periode 2014-1019 sudah tercatat 7 orang. Akankah politisi dari PAN ini  menjadi yang ke-8?

Yang jelas  LSM Transparency Internasional tahun 2017 mengeluarkan rilis bahwa DPR sebagai lembaga terkorup. Dari 560 anggotanya, sejumlah oknumnya menjadi politikus dalam arti” politisi jadi tikus Negara.- (gunarso ts)