Wednesday, 21 November 2018

KEMBALI KE ALAM

Senin, 5 November 2018 — 6:25 WIB

Oleh H.Harmoko

KITA wajib bersyukur. Indonesia yang secara geografis berada di daerah tropis dan dilewati garis khatulistiwa, menjadikan negeri kita kaya keragaman hayati.

Tak kurang dari 350.000 jenis hewan (fauna) dan 25.000 tumbuhan (flora) ada di Indonesia. Sebagian menjadi ciri khas Indonesia karena tidak ditemukan di negara lain. Sebut saja bunga bermahkota raksasa (Rafflessia arnoldii), kadal raksasa, badak bercula satu, anoa, Bornea orangutan dan burung cendrawasih.

Kekayaan ini sebagai anugerah yang wajib dijaga, dirawat, dan dilindungi agar tidak punah tergusur perubahan zaman, apalagi oleh tangan – tangan jahil oknum yang dengan sengaja merusak habitat flora dan fauna.

Zaman berganti tak bisa dihindari, alih generasi pasti terjadi, tetapi melestarikan kekayaan hayati tidak lantas terhenti.

Pemerintah dan kita semua memiliki kewajiban untuk terus mengedukasi masyarakat menjaga lingkungan sekitarnya.

Upaya mencegah kerusakan lingkungan sudah dilakukan sejak lama. Keppres No 4 Tahun 1993 menetapkan Hari Cinta Puspa dan Satwa Nasional yang diperingati setiap tanggal 5 November.

Ini satu upaya meningkatkan kepedulian, perlindungan, pelestarian puspa dan satwa nasional.

Selain itu hal tersebut juga dimaksudkan untuk menumbuhkan dan mengingatkan akan pentingnya puspa dan satwa dalam kehidupan manusia. Puspa berarti bunga (lebih luas adalah flora), sedangkan satwa adalah hewan atau binatang (fauna).

Cinta Puspa dan Satwa semakin urgen. Tidak cukup digelorakan, tapi harus teraplikasi dalam kehidupan sehari -hari.

Sulit terbantah kerusakan lingkungan cenderung meningkat menyusul kian menyempitnya kawasan hutan di sejumlah daerah.Indonesia kehilangan 840.000 hektar hutan setiap tahun akibat pembalakan liar, kebakaran hutan, perambahan hutan dan alih fungsi hutan.

Indonesia menempati peringkat kedua dunia tertinggi kehilangan hutan setelah Brasil.
Berkurangnya “kawasan hijau” berakibat hilangnya habitat puspa dan satwa, yang pada gilirannya dapat memusnahkan sejumlah spesies satwa.

Belum lagi perburuan satwa liar sepertinya tiada henti. Masih banyak oknum yang mengambil keuntungan dengan menjual banyak jenis satwa langka, satwa yang mestinya dijaga kepunahannya. Tak heran jika negeri kita termasuk ke dalam negara yang menempati peringkat pertama soal perdagangan satwa yang dilindungi.

Tentu kita tak ingin kekayaan hayati itu punah karena penebangan hutan dan perburuan liar.

Kita tak inginkan dari 250.000 ragam serangga yang kita miliki saat ini sepuluh tahun lagi tinggal separonya.

Sayang kalau lebih dari 1.700 jenis burung, ratusan di antaranya langka di dunia, duapuluh tahun mendatang tak bisa lagi terbang karena punah habitatnya.

Masih banyak satwa yang perlu dijaga kepunahannya seperti 2.000 jenis reptilia, sekitar 1.000 jenis amphibia dan 800 jenis mamalia.

Perlu solusi agar cinta puspa dan satwa tidak sekadar terucap di kata tanpa aksi nyata.
Beberapa yang di antaranya dapat dicoba adalah:

1. Pertama, memperbanyak hutan kota di setiap daerah. Ini dituntut keseriusan pemerintah, baik Daerah maupun Pusat memperhatikan keseimbangan lingkungan dalam pembangunan.
Hutan kota selain berfungsi sebagai daerah resapan, juga harus dijadikan pengembangan habitat puspa dan satwa unggulan di daerahnya, juga sebagai kawasan wisata.

2. Mampu lebih memperbanyak ruang terbuka hijau (RTH) di setiap ibukota provinsi atau kabupaten/kota.
Upaya ini untuk mengimbangi semakin maraknya “taman beton”. Bagi kota metropolitan seperti Jakarta, menjadi urgen selain berfungsi sebagai taman, tempat rekreasi, daerah resapan, juga kelestarian lingkungan hidup.

3. Mengedapankan perilaku peduli lingkungan melalui aksi nyata. Pelepasan balon sebagai simbol pembukaan acara (grand opening) sebaiknya diganti dengan melepas burung.
Alasannya, balon tidak ramah lingkungan, sementara melepas burung selain simbol kedamaian, juga mengembalikan satwa ke alam habitatnya. Mari kita mulai hari ini!. (*)