Wednesday, 14 November 2018

Pesawat Tarif Murah Meriah Akhirnya Nyawa Jadi Murah

Rabu, 7 November 2018 — 7:24 WIB
sentilan-penerbangan-murah-7-11-2018

DUNIA penerbangan dalam negeri kembali berduka. Pesawat Lion Air JT 610 jatuh 29 Oktober lalu, dalam penerbangan Jakarta-Pangkalpinang. Penumpang bersama awak sebanyak 189 orang jadi korban. Lion Air memang pelopor penerbangan bertarif murah meriah. Tapi kenapa pada akhirnya nyawa orang kok menjadi demikian murah?

Sebelum era reformasi atau tepatnya jaman Orde Baru, penerbangan swasta dikenal hanyalah Mandala, Bourak, Sempati dan MNA (Merpati Nusantara Airlines) yang sebetulnya anak usaha Garuda Indonesia. Tarifnya pun relatif mahal, sehingga “tampang ndeso” merasa minder naik burung besi itu.
Tapi sejak tahun 2000, hadirlah maskapai penerbangan berbiaya murah, bernama Lion Air, milik pengusaha Rusdy Kirana. Maskapai berlogo singa terbang ini banting harga sehingga terjangkau kantong tipis rakyat kecil. Taun 2007-an, berani pasang tarif promo Rp 150.000,- untuk penerbangan Yogya-Jakarta. Bahkan sekarang ini, Lion Air berani pasang tarif Rp 100.000, untuk penerbangan Jakarta-Singapura.

Namanya tarif murah meriah, sehingga fasilitas dalam penerbangan dikurangi. Tak ada snack dan minuman, paling-paling permen. Itupun lama-lama hilang. Tapi karena konsumen berprinsip “yang penting sampai”, minimnya fasilitas tak menjadi masalah. Karena murahnya itu pula, meski Lion Air sering mendelay pesawat, tak bikin kapok penumpang.
Dipelopori Lion Air, maskapai yang lain pun ikut-ikutan “banting harga”. Meski bertarif murah maskapai tetap untung. Sebab bagi yang tahu liku-liku dan tehnik penerbangan, harga bisa dibuat murah sebab BBM avtur itu hanya digunakan saat mau take of maupun landing. Di langit lepas, pesawat sebetulnya melayang begitu saja, karena kecepatannya didorong oleh kekuatan angin.
Tapi ironisnya, sejak lazim penerbangan murah meriah, sering terjadi kecelakaan. Adam Air misalnya, nyungsep di perairan Majene, Sulawesi Barat 1 Januari 2007. Penumpang berikut awaknya sebanyak 102 orang tewas. Di Bandara Adisumarmo Solo 30 Nopember 2004, Lion Air slip dan tewaskan 26 penumpang. Di Bandara Ngurah Rai (Bali), Lion Air mendarat di laut 13 April 2013, untung tak ada korban jiwa.
Dan terakhir 29 Oktober 2018, Lion Air jatuh di perairan Ujung Krawang. Pada tiga penerbangan sebelumnya, sebetulnya pesawat sudah bermasalah, tapi kenapa terus digunakan? Maka sungguh ironis, ketika tiket pesawat demikian murah, nyawa orang kok jadi ikutan murah? – gunarso ts