Saturday, 17 November 2018

JPPR Ajak Insan Pers Jaga Persatuan

Kamis, 8 November 2018 — 19:24 WIB
Diskusi publik dengan tema "Jelang Pemilu 2019, Peran Media dalam Menjaga Keutuhan dan Persatuan Bangsa" di bilangan Matraman, Jakarta Timur, Kamis (8/11/2018).

Diskusi publik dengan tema "Jelang Pemilu 2019, Peran Media dalam Menjaga Keutuhan dan Persatuan Bangsa" di bilangan Matraman, Jakarta Timur, Kamis (8/11/2018).

JAKARTA – Deputi Nasional Jaringan Pendidikan Pemilih untuk Rakyat (JPPR), Sunanto mengatakan bahwa peran media saat ini masih sangat penting, khususnya dalam menjaga keutuhan dan persatuan anak bangsa melalui literasi dan narasi yang berimbang.

“Kami ajak semua publik dan teman-teman media, karena yang berperan penting dalam keutuhan dan tidak pecah-belah bangsa adalah teman-teman media. Ambil angel tokoh yang tidak memicu perpecahbelahan,” kata Sunanto dalam diskusi publik dengan tema “Jelang Pemilu 2019, Peran Media dalam Menjaga Keutuhan dan Persatuan Bangsa” di bilangan Matraman, Jakarta Timur, Kamis (8/11/2018).

Sunanto juga mengajak seluruh insan pers menjaga kode etik yakni cover both side dalam menyajikan sebuah karya jurnalistiknya. Baginya, integritas awak media maupun pemilik modal sangat diperlukan untuk menjaga kesatuan dan persatuan tersebut.

“Keseimbangan informasi harus dipertahankan, independensi dan integritas teman-teman wartawan dan pemilik modal sangat diperlukan,” tuturnya.

“Carilah pemberitaan yang bikin masyarakat cerdas, bukan membuat publik bergejolak dan sebagainya sehingga kita tidak dibenturkan satu dengan yang lain karena kepentingan politik,” imbuh Sunanto.

Selain kepada insan pers dan pengelola media penyiaran, Sunanto juga menyerukan kepada seluruh tokoh yang memiliki potensi pengaruh kepada masyarakat luas untuk ikut menjaga stabilitas nasional. Salah satunya dengan tidak mengeluarkan statamen yang justru semakin memicu konflik berkepanjangan.

“JPPR selalu berupaya berikan edukasi sebanyak-banyaknya kepada publik. Tapi yang paling penting bagaimana mengajak tokoh bangsa, politik dan agama untuk tidak ikut memperkeruh, karena kan banyak tokoh agama yang juga nyaleg,” pungkasnya.

Baginya, siapapun boleh menyampaikan pendapat namun tetap mengedepankan data dan fakta, bukan hoax dan narasi perpecahan. Sementara terkait dengan keputusan pilihan, Sunanto menilai itu adalah domain publik secara personal.

“Kita jangan tuntut publik selalu bersabar, yang kita tuntut bagaimana tokoh-tokoh publik dan politik yang melakukan kampanye logis, berdasarkan fakta dan data. Serahkan kesimpulannya ke publik asal jangan sisipkan narasi kebencian,” tutupnya. (tiyo/win)