Wednesday, 21 November 2018

Pahlawan Masa Kini

Kamis, 8 November 2018 — 12:15 WIB

         Oleh Harmoko

ZAMAN sudah berubah, generasi pun telah berganti, tetapi nilai – nilai kepahlawanan harus tetap diaktualkan sebagai cermin kehidupan menyongsong masa depan.

Tentu, aktualisasi nilai – nilai perlu diselaraskan dengan era kekinian mengingat pahlawan zaman dulu, beda dengan sekarang. Bukan saja beda masanya, beda generasinya, juga beda tantangan yang dihadapi.

Zaman dulu, makna kepahlawanan adalah mereka yang berperang melawan penjajah atau orang – orang yang ikut berperan memperjuangkan dan mempertahankan kemerdekaan. Mereka berjuang dengan semangat tak kenal menyerah, dengan darahnya, raganya, jiwanya, hartanya untuk mengakhiri segala bentuk penindasan. Tantangan yang dihadapi nyata adanya, penjajah dengan segala bentuk keserakahan dan kesewenang-wengannya.

Era kini, tantangan yang dihadapi bukan lagi penjajahan secara fisik, tetapi bagaimana menyelesaikan berbagai persoalan besar dan kompleks yang membelit bangsa ini. Kemiskinan yang masih mendera 25,95 juta warga ( data BPS per Maret 2018), kesenjangan sosial, ketidakadilan dalam layanan pendidikan, kesehatan, dan perizinan.

Belum lagi persoalan narkoba, KKN (korupsi, kolusi dan nepotisme) dan radikalisme atau intoleransi.

Perilaku orang yang ikut andil terjadinya kemiskinan, kesenjangan dan ketidakadilan, ada di sekitar kita. Tapi tidak selalu nyata. Begitu juga pelaku narkoba, KKN dan radikalisme.

Jika pelaku tindak pidana korupsi, pengedar atau bandar narkoba, pelaku radikalisme diibaratkan “musuh” bangsa, mereka ada di sekitar kita, di sekeliling kita. Boleh jadi, teman atau tetangga kita, bahkan masih saudara kita. Baru diketahui sebagai koruptor setelah ditangkap KPK atau penegak hukum lainnya. Baru sadar dia bandar narkoba setelah ditangkap polisi.

Makin rumit dan beragamnya persoalan bangsa seperti sekarang ini, sebenarnya sudah diisyaratkan sejak awal oleh para pendiri negeri ini bahwa “Perjuanganku lebih mudah karena mengusir penjajah, perjuanganmu lebih sulit karena melawan bangsamu sendiri”

Lantas bagaimana karakter pahlawan yang diperlukan era sekarang? Dalam konteks kekinian tentu harus ada perubahan dalam memaknai nilai – nilai kepahlawanan. Tidak relevan lagi mengaitkan kepahlawanan hanya dengan mengangkat senjata dan berperang. Sikap heroik tak harus maju ke medan pertempuran.

Secara etimologi pahlawan berasal dari bahasa Sanskerta “ phala” yang bermakna hasil atau buah. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, pahlawan berarti orang yang menonjol karena keberanian dan pengorbanannya dalam membela kebenaran. Pejuang yang gagah berani.

Mengacu kepada kedua makna tadi dapat dikatakan bahwa pahlawan adalah orang yang membuat pahala. Orang yang menanggalkan ego pribadi untuk mengabdi, berkontribusi, memberi manfaat dan maslahat bagi umat.

Secara konkret bagaimana bersikap dan menjadi pribadi yang memberi dampak positif dalam bidang apa pun. Mampu memberi nilai tambah bagi lingkungan sekitarnya. Selalu berpikir positif, mengembangkan sikap kreatif dan inovatif untuk membawa perubahan dengan mengusung kejujuran.

Jika disarikan, nilai – nilai kepahlawanan yang dibutuhan sekarang adalah:

1. Rela berkorban memperjuangan kebenaran dan keadilan
2. Rela menanggalkan ego pribadi untuk kepentingan umum
3. Memberi nilai tambah bagi lingkungan sekitar
4. Mampu membawa perubahan
5. Berani mengungkap kejujuran

Nilai – nilai kepahlawanan ini harus tetap hidup dalam sanubari, meskipun zaman berganti, regenerasi terjadi. Itulah perlunya edukasi.

Di era digitalisasi ini, edukasi nilai kepahlawanan harus bersifat inklusif, terbuka, dan multidimensional. Dituntut kemampuan membujuk dan meyakinkan tanpa mendoktrin lewat mitos dengan romantisme perjuangan senjata dan darah, karena hal itu sudah tidak sesuai lagi dengan zamannya.

Di era kini, sering disebut sebagai generasi milenial dan generasi net, maka edukasi nilai-nilai kepahlawanan perlu dikemas lebih sederhana, nyata dan dapat segera dirasakan manfaatnya.

Edukasi yang berbelit, apalagi yang bersifat nenggurui akan dipandang sebelah mata. Hasil yang didapat bukannya membangkitkan semangat kejuangan dan rela berkorban, boleh jadi kian bias dalam memaknai identitas kebangsaan.

Generasi milenial yang memiliki kepercayaan diri, super kreatif, pekerja keras, berpikir praktis dan terkoneksi jaringan luas lintas negara, dapat diedukasi menjadi pahlawan masa kini. Pahlawan di zamannya, mampu memberikan nilai tambah di lingkungan terdekatnya, di kelompoknya atau di keluarganya.

Kepahlawanan era kini tidak bisa serta merta diukur dari sisi pengaruhnya yang mencakup seluruh bangsa. Kecil tapi memberi makna, memberi nilai tambah dan bermanfaat bagi lingkungannya, itu juga layak, kalau bukan justru paling layak, disebut pahlawanera kini. *