Wednesday, 14 November 2018

Cetak Lifter Handal, PB PABBSI Masih Terkendala Dana

Jumat, 9 November 2018 — 13:09 WIB
Para pengurus PB PABBSI bersama pihak Kemenpora berforo bersama dengan para lifter yang turun di Kejuaraan Dunia Angkat Besi 2018 di Ashgabat, Turkmenistan. (ist)

Para pengurus PB PABBSI bersama pihak Kemenpora berforo bersama dengan para lifter yang turun di Kejuaraan Dunia Angkat Besi 2018 di Ashgabat, Turkmenistan. (ist)

JAKARTA – Di balik sukses PB PABBSI melahirkan lifter-lifter berprestasi di tingkat dunia, ternyata masih terselip kendala klasik yakni soal terbatasnya dana. Terakhir, Eko Yuli Irawan berhasil mengukir prestasi dengan menyegel gelar juara dunia dan rekor baru di kelas 61 kilogram putra pada Kejuaraan Dunia Angkat Besi 2018 di Ashgabat, Turkmenistan, akhir pekan lalu.

Gelar juara dunia dan rekor di kelas baru tersebut, dicatat Eko dengan total angkatan 317 kg dari 313 kg sebelumnya dengan rincian angkatan clean and jerk 174 kg dan snatch 143 kg. Wakil Ketua Umum PB.PABBSI, Djoko Pramono mengaku bangga dengan apa yang diukir lifter andalannya itu. Meski demikian, pihaknya juga mengaku kerap mendapat kesulitan untuk bisa membarangkatkan para lifter andalannya untuk mengikuti kejuaran-kejuaraan di luar negeri.

Di sisi lain, ada sejumlah event yang harus diikuti para lifter untuk meraih tiket ke ajang Olimpiade Tokyo pada 2020 mendatang. “Misalnya saja seperti keberangkatan Eko Yuli dan kawan-kawan ke Ashgabat dalam upaya mencari tiket lolos ke Olimpiade 2020 saja kami menghabiskan dana sekitar Rp.2.1 Miliar. Dengan catatan kami menggunakan dana Pelatnas Asian Games 2018 lalu untuk mengirim mereka ke Ashgabat,” kata Djoko kepada para awak media, Kamis (8/11/2018).

Alasan itulah yang membuat PB PABBSI harus bisa ‘memutar otak’ mengatasi masalah tersebut. Salah satunya dengan mengggunakan dana Pelatnas Asian Games 2018 yang masih tersisa. Pasalnya, dalam persiapan menghadapi multi-event itu para lifter hanya berlatih di dalam negeri saja, tidak melakukan try-out ke luar negeri. “Untuk apa kami try-out ke luar negeri sewaktu persiapan Asian Games lalu,. Pertimbangannya, lebih baik dana itu kami gunakan untuk mengirim mereka ke Kejuaraan Dunia di Ashgabat agar mereka mendapat tiket ke Olimpiade 2020,” papar Djoko.

Hingga saat ini pihaknya masih mencari dana untuk memberangkatkan para lifter mengikuti seri kejuaraan angkat besi tingkat dunia. Apalagi Eko Yuli masih harus berlaga di empat hingga enam ajang seri Kejuaraan Dunia untuk memastikan tiket lolos ke Olimpiade 2020 setelah sukses di Ashgabat. “Dari 14 seri Kejuaraan Dunia, saya masih harus mengikuti empat sampai enam seri lagi untuk memgamankan tempat ke Olimpiade. Yang pasti ke depannya akan lebih berat, jadi saya gak bisa berleha-leha,” ungkap Eko Yuli yang kembali kebanjiran bonus dari pemerintah.

Berkat prestasinya di Ashgabat, Eko Yuli kembali mendapat guyuran bonus sebesar Rp200 juta dari Kementerian Pemuda dan Ilahraha (Kemenpora) dan Rp250 juta dari Presiden RI, Joko Widodo. Selain Eko Yuli, hingga saat ini juga ada tiga lifter Indonesia lainnya yang berpeluang meraih tiket ke Olimpiade Tokyo 2020, yakni Deni(67 Kg), Sri Wahyuni(49 Kg), dan Acchedya Jagaddhita(59 Kg). (junius/mb)