Wednesday, 21 November 2018

Disinggung Jokowi, ‘Politikus Genderuwo’ Disebut Segera Menampakkan Diri

Jumat, 9 November 2018 — 15:29 WIB
Sekretaris Jenderal PSI Raja Juli Antoni.(cw2)

Sekretaris Jenderal PSI Raja Juli Antoni.(cw2)

JAKARTA – Setelah disinggung Presiden Joko Widodo, diyakini ”politikus genderuwo’ akan bermunculan keluar ke permukaan. Sekretaris Jenderal Partai Persatuan Pembangunan (PSI), Raja Juli Antoni mengatakan rakyat akan segera mengetahui siapa yang dimaksud dengan ‘politikus genderuwo’ karena tidak nyaman dengan sebutan tersebut.

“Siapa mereka yang disebut politik genderuwo, nanti akan muncul dengan sendirinya karena ‘panas’. Rakyat akan melihat ‘oh ini toh wajah-wajah genderuwo dalam bentuk lain,” katanya kepada wartawan, Jumat (9/11/2018).

Sebelumnya, dalam acara pembagian sertifikat tanah di Tegal, Jawa Tengah, hari ini, Presiden Jokowi untuk menjaga persatuan dan tidak terpengaruh oleh politik yang kerap menakuti masyarakat. Jokowi menyebut sebagai ‘politik gendruwo’.

Toni memaknai ‘politik genderuwo yang dimaksud mantan Gubernur DKI Jakarta itu adalah para elit politik yang gemar menebar ketakutan, kebencian, sikap pesimisme dan kabar bohong alias hoaks  di tengah masyarakat. Menurut Wakil Sekretaris Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi – Ma’ruf itu, Presiden mengingatkan masyarakat terhadap politik semacam itu dengan memilih diksi ‘genderuwo’ sebagai simbol sekaligus sindiran.

“Pak Jokowi kembali mengingatkan kita agar kita  politik kita tidak menjadi politik Genderuwo. Politik manipulatif penuh kebohongan yang pada intinya menakuti-nakuti rakyat. Sekali lagi, politik genderuwo itu selain bahasa simbol juga sindiran yang yang menusuk ke jantung pertahanan. Semoga Indonesia selamat dari ‘godaan genderuwo politik’ yang terkutuk,” tandasnya.

Sementara itu, juru bicara TKN, Ace Hasan Syadzily menilai Jokowi tidak menyasar pada politikus atau kelompok tertentu saat menyebut politik genderuwo.

“Saya kira pernyataan ini tidak hanya kepada kelompok tertentu, tetapi kepada siapa saja pihak terutama para politisi yang selalu melontarkan pandangan-pandangan dan narasi yang pesimistik, ketakutan dan ketidakpastian,” terang Ace. (ikbal/tri)