Saturday, 17 November 2018

Fahri: Yang punya Kapasitas Politik Genderuwo Itu ya Pemerintah

Jumat, 9 November 2018 — 18:35 WIB
Wakil Ketua DPR Fahri Hamzah

Wakil Ketua DPR Fahri Hamzah

JAKARTA – Pernyataan Presiden Jokowi soal politik genderuwo memicu polemik.  Wakil Ketua DPR Fahri Hamzah menilai, sumber dari politik genderuwo dan sontoloyo yang disebut Jokowi adalah pemerintah sendiri.

Menurut Fahri, masyarakat tidak punya kapasitas untuk menjalankan politik genderuwo atau sontoloyo yang disebut Jokowi. Sehingga ia meminta pemerintah, khususnya Jokowi, untuk melihat kepada diri sendiri sebelum mengeluarkan sebuah pernyataan.

“Ini kan yang punya kapasitas sontoloyo dan genderuwo itu pemerintah, makanya harus kembali ke sendiri. Seperti peribahasa menepuk air tepercik ke muka sendiri, sebenarnya,” kata Fahri.

Politisi PKS ini menilai, partai oposisi pemerintah tidak memiliki kemampuan untuk menakut-nakuti masyarakat. Justru, lanjutnya, pemerintah khususnya petahana yang kerap menciptakan opini dan memecah belah masyarakat, sehingga menimbulkan ketakutan. Salah satu contohnya adalah soal sentimen ulama.

“Sudah saya katakan dari awal, petahana ini memilih Pak Ma’ruf dengan maksud Pak Ma’ruf itu adalah Ketua Majelis Ulama. Jadi tuduhan anti-ulama itu kan ingin dihilangkan,” tuturnya.

Ia lantas membandingkan pemerintahan Jokowi dengan pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) yang selama 10 tahun memimpin Indonesia. Di masa kepemimpinannya, ormas kontroversial seperti FPI dan HTI eksis, namun tidak ada pembelahan konflik ideologi seperti yang terjadi saat ini.

“Lalu karenanya ini karya siapa? Kalau rakyatnya tetap sementara pemimpinnya berubah, maka dugaan kita ini adalah karyanya pemimpin, bukan karya rakyat,” ungkapnya.

Sebelumnya diberitakan, Presiden Jokowi kembali mengingatkan masyarakat untuk menjaga persatuan dan kesatuan antarsesama masyarakat. Jangan sampai terpengaruh dengan politik yang suka menakut-nakuti.

“Cara-cara seperti ini adalah cara-cara politik yang tidak beretika. Masak masyarakatnya sendiri dibuat ketakutan? Nggak benar kan? itu sering saya sampaikan itu namanya politik genderuwo, nakut-nakuti,” kata Jokowi di Kabupaten Tegal, Jawa Tengah, hari ini.

“Jangan sampai seperti itu. Masyarakat ini senang-senang saja kok ditakut-takuti. Iya tidak? Masyarakat senang-senang kok diberi propaganda ketakutan. Berbahaya sekali. Jangan sampai propaganda ketakutan menciptakan suasana ketidakpastian, menciptakan munculnya keragu-raguan,” ujarnya. (*/win)