Saturday, 17 November 2018

Soal Smart City Pemkot Cirebon Belajar ke Kabupaten Badung, Bali

Jumat, 9 November 2018 — 17:11 WIB
Sekdis DKIS Kota Cirebon Ma'ruf Nuryasa saat membetmrikan cibderamata kepada Kepala Dinas Kominfo Kabupaten Badung I Wayan Weda Dharmaja , di Bali.(darman)

Sekdis DKIS Kota Cirebon Ma'ruf Nuryasa saat membetmrikan cibderamata kepada Kepala Dinas Kominfo Kabupaten Badung I Wayan Weda Dharmaja , di Bali.(darman)

CIREBON – Kota Cirebon masuk dalam 25 kabupaten/kota se-Indonesia penyelenggara Smart City (tahap pertama). Hanya saja dalam pelaksanaannya masih memerlukan banyak tambahan ilmu agar program smart city berjalanmaksimal.

Untuk itulah Dinas Komunikasi, Infirmasi dan Statistik (DKIS) Kota Cirebon, Jawa Barat bersama jurnalis beberapa waktu lalu melakukan study banding ke Kabupaten Badung Provinsi Bali.

Sekretaris DKIS Ma’ruf Nuryasa mengungkapkan, dipilihnya Kabupaten Badung , karena sangat menonjol dalam penerapan program smart city. “Itulah yang mendasari kami untuk belajar dan menggali program smart city yang diterapkan di Kabupaten Badung. Memang ada beberapa hal yang sudah kami gali dan akan diterapkan di Kota Cirebon,” kata Ma’ruf.

Ma’ruf mengungkapkan, setidaknya ada tiga poin yang bisa diambil dalam kunjungan itu, poin pertama yakni keberhasilan Kabupaten Badung dalam hal penyediaan wifi gratis untuk masyarakat. Bahkan wifi gratis di sana sampai menyentuh untuk tingkat RT/RW. Intinya wifi di Kabupaten Badung gratis. “Di sana (Kabupaten Badung) saat ini sudah tersedia 987 titik wifi, itu sungguh luar biasa,” katanya.

Mengenai penyediaan layanan Wifi gratis ini, Kota Cirebon sebenarnya sudah ada, hanya saja secara kualitas dan kuantitas masih belum semaju di Kabupaten Badung. Dan di beberapa titik sudah kita lakukan pemasangan layanan wife gratis. Saat ini ada 30 titik wifi gratis, tapi itu masih on progres karena targetnya terpasang 50 titik wifi.

Sementara poin kedua yakn, terkait dengan pemanfaatan tekhnologi di sektor kepariwisataan. Di Kabupaten Badung, sudah menggunakan Sistem Informasi Pariwisata (SITA).

Kota Cirebon sebenarnya sudah melaunching program Wistakon. Hanaya saja dari isi konten, saat ini masih belum komplit. Kalau di Badung ini sudah sangat luar biasa. Mudah-mudahan Kota Cirebon bisa lebih memperkaya lagi isi konten terkait dengan informasi tentang wisata.

Ma’ruf menilai, aplikasi Wistakon yang ada dalam program Smart City pasca dilaunching, belum di upadate secara berkala. Hal itu dikarenakan sektor kepariwisataan di Kota Cirebon belum teragendakan secara reguler. Berbeda dengan Kabupaten Badung yang sudah memiliki objek wisata yang sudah sangat dikenal dengan kekayaan pantainya.

Selanjutnya pada poin ketiga tentang ketersediaan (support) anggaran. Ma’ruf Nuryasa menyebutkan, Kota Cirebon sedikit berbeda dengan Kabupaten Badung. Anggaran pelaksanaan Smart City di Kota Cirebon tidak selalu mengandalkan dari APBD.

Dijelaskannya, Program Smart City di Kota Cirebon lebih banyak memberdayakan sumber daya yang ada, khususnya di internal stackholder.

“Kalau di Kota Cirebon dari awal lebih banyak stackholder karena dia unsur pemerintahan di dalam program Smart City. Harapannya supaya program Smart City ini bisa berlangsung, berkelanjutan dan bukan hanya program pemerintah, tetapi milik kita semua di Kota Cirebon,” tuturnya.

“Program-program itu, kita selalu tidak hanya berbasis kepada anggaran APBD, jadi semua sumber daya yang ada kita gali untuk bisa bersama-sama berkolaborasi, saling menguntungkan,” tuturnya lagi.

Ma’ruf menambahkan, Kabupaten Badung dari sisi Anggaran Daerah sangat luar biasa. Sehingga wajar jika support anggaran untuk pelaksanaan program Smart City nya selalu menggunakan peralatan (komponen) tekhnologi yang sangat modern.

“Poin penting berikutnya yakni mengenai ketersediaan CCTV. Di Badung sudah menggunakan Video Tron dan Fiber Optik, sama pemanfaatan tekhnologi CCTV,” tegadnya seraya menambahkan kalau di Kabupaten Badung kita sudahvtersedia 168 CCTV yang terpasang di 117 titik lokasi.(darman/b)