Wednesday, 21 November 2018

Tiga ABG Otaknya Dicuci Oleh Pemuda jadi Hacker Berbau SARA

Jumat, 9 November 2018 — 18:12 WIB
Kasubdit II Bareskrim Siber, Kombes Rickynaldo Chairul menunjukkan barang bukti tersangka peretas situs pemerintah dan swasta. (ilham)

Kasubdit II Bareskrim Siber, Kombes Rickynaldo Chairul menunjukkan barang bukti tersangka peretas situs pemerintah dan swasta. (ilham)

JAKARTA – Subdirektorat II Direktorat Tindak Pidana Siber Bareskrim Polri menangkap empat anggota grup peretas yang bernama Blackhat. Tiga dari empat tersangka masih anak di bawah umur . Mereka ditangkap terpisah di daerah Kediri, Surabaya, Jambi dan Cirebon.

Kasubdit II Bareskrim Siber, Kombes Rickynaldo Chairul mengatakan, tersangka MSR, 14, JBEK, 16, dan HEC, 13 masuk dalam grup WhatsApp yang dikendalikan LYC, 19. Dari mereka, polisi menyita 4 handphone, 3 laptop, flashdisk, dan 3 lembar bukti pembayaran jaringan internet.

Anggota grup, kata Rickynaldo, diberikan pelatihan oleh seorang official alias mentor bagaimana menghack atau deface dengan teknik-teknik tertentu. “Mereka dites dengan maksud tertentu dan diberi target. Jika sudah berhasil mereka mengupload hasil hacking mereka ke grup tersebut untuk memacu anggota-anggota yang lain,” tukas Rickynaldo.

Dikatakan, grup tersebut sangat aktif melakukan tutorial, sharing pengetahuan dan informasi soal mana saja situs-situs yang lemah dalam sistem keamanannya dan rata-rata yang diserang merupakan situs milik pemerintah lantaran dinilai rentan dan lemah sistem keamanannya.

“Tujuan mereka dalam grup WA Blackchat adalah merekrut dan menggalang cybertroop muda,” ucapnya.

Rickynaldo menjelaskan, Juni akhir sampai pertengahan Juli salah satu instansi pemerintah di Provinsi Sulawesi Tenggara mengalami serangan hacking dengan metode defacing setiap hari dan jam. “Mereka dilatih kalau yang sudah pinter dites dengan cara yang sudah dipersiapkan,” tukasnya.

Rickynaldo menuturkan situs yang berhasil dijebol kemudian ‘dirusak’ dengan tulisan-tulisan bernuansa SARA dan radikal. “Ini sedang kita lakukan pendalaman karena hasil uploadnya tersebut atau hasil bajakan mengandung unsur SARA, radikalisme dan unsur lain,” jelas dia. (ilham/b)