Monday, 10 December 2018

Pahlawan Zaman Now

Sabtu, 10 November 2018 — 7:35 WIB
dulk

Oleh S Saiful Rahim

“HEI, Dul! Aku kok gak lihat kau di Taman Pahlawan?” tanya orang yang baru masuk ke warung kopi Mas Wargo seraya menunjuk Dul Karung yang duduk di ujung kiri bangku panjang.

“Ada. Aku lihat dia sedang jaga mobil,” tanggap orang yang duduk tepat di depan Mas Wargo.

“Apa dia sekarang jadi sopir? Atau justru bawa mobil milik sendiri?” sambung tanya orang yang baru masuk ke warung itu.

“Bukaaan. Dia cuma jadi tukang parkir dadakan,” kata orang yang duduk tepat di depan Mas Wargo lagi, mencoba menjelaskan.

“Kalau begitu, hari ini Dul Karung akan melunasi utang-utangnya kepada Mas Wargo, dan layak disebut pahlawan dong. Zaman sekarang ini kan yang patut diberikan gelar pahlawan adalah mereka yang tidak punya utang. Entah memang belum pernah berutang, atau sudah mampu membayar utangnya,” komentar orang yang duduk di dekat pintu masuk warung.

“Wah ucapan Bung itu tendensius dan berbau politik. Bung bisa dituduh menyindir pemerintah yang konon utangnya banyak,” sambar orang yang duduk di ujung kanan bangku panjang.

“Lho, justru ucapan Bung yang tendensius dan sarat sindiran. Aku sama sekali bukan tukang sindir. Dulu aku memang tukang sisir, dan tukang sihir yang kerap ditanggap di banyak Sekolah Dasar.

Lagi pula yang punya atau banyak utangnya sekarang ini kan bukan negara kita saja,” balas orang yang duduk di dekat pintu masuk warung.
“Eh, tunggu dulu!” potong orang yang duduk tepat di kanan Dul Karung ikut nimbrung.

“Seingatku kalau tidak salah Bung Karno pernah berkata,jadi pahlawan zaman beliau lebih gampang daripada sekarang ini. Karena zaman beliau berjuang, yang dihadapinya adalah orang asing, tetapi sekarang menghadapi bangsa sendiri. Mungkin maksud beliau musuh yang kita hadapi sekarang bukan saja fostur dan bentuknya bisa sama, tetapi silsilahnya pun tidak mustahilsama juga.

Lihat saja para koruptor, baik yang kena OTT atau bukan, seringkali bersanak famili pula satu sama lainnya,” sambung orang yang duduk tepat di sebelah kanan Dul Karung itu.

“Mas, Mas. Ini aku bayar utangku. Entah separo dulu atau seperseribunya. Aku bukan tidak punya duit untuk melunasinya, tapi aku khawatir dituduh menyindir pemerintah yang belum melunasi utang-utangnya. Atau malah aku yang baru menjadi tukang parkirdadakan sudah dituduh korupsi. Tadi kan ada yang bilang, zaman sekarang di negeri kita ini orang yang tidak korupsi layak disebut pahlawan,” kata Dul Karung sambil ngeloyor pergi meninggalkan warung kopi Mas Wargo. ( syahsr@gmail.com )