Thursday, 13 December 2018

UNTUK AYAH

Senin, 12 November 2018 — 7:05 WIB

Oleh H.Harmoko
“Bahumu yang dulu kekar
Legam terbakar matahari
Kini kurus dan terbungkuk ..hm..
Namun semangat tak pernah pudar..
Kau tetap setia..”

Cuplikan lagu berjudul “Titip rindu buat ayah” karya Ebiet G. Ade ini beberapa hari ini menjadi viral sebagaimana video acara wisuda yang beredar.

Dalam video berdurasi 5 menit 42 detik itu, seorang dosen sambil menyanyikan lagu tersebut menggandeng satu orang tua mengajaknya ke panggung, mempertemukan dengan anaknya, wisudawati.

Terjadilah adegan mengharukan, saling rangkul dan menangis hingga si wisudawati pingsan.

Lirik lagu berkumandang menggambarkan pengorbanan, ketabahan, dan kesetiaan seorang ayah (bapak) untuk menghidupi keluarganya, istri dan anaknya. Meski sarat dan berat menanggung beban, dia tak kenal menyerah.

Dialah seorang ayah yang ikhlas mengorbankan segalanya untuk kebahagiaan dan kesuksesan anak- anaknya.

Begitu tingginya penghormatan kepada “ayah”, beberapa negara menetapkan peringatan Hari Ayah.

Di Serbia dirayakan setiap 6 Januari. Korea Selatan, Hari Ayah diperingati setiap 8 Mei.
Sementara di Amerika, dan lebih dari 75 negara lain, seperti Kanada, Jerman, Italia, Jepang, Belanda, Turki, Pakistan, Malaysia, Singapura, Taiwan, Filipina, dan Hongkong memperingati Hari Ayah atau Father’s Day pada hari Minggu di pekan ketiga bulan Juni, mulai diperingati sejak awal abad 12.

Di beberapa negara Eropa dan Timur Tengah, menamakan Hari Laki-laki Internasional atau International Men’s Day diperingati setiap 19 November.

Di Indonesia, Hari Ayah yang juga bertepatan dengan Hari Kesehatan Nasional diperingati setiap tanggal 12 November. Hari Ayah lahir atas prakarsa komunitas kaum perempuan lintas agama pada 2006 silam.

Tentu, hari ini sejak dinihari tadi, tak sedikit orangtua yang menerima ucapan selamat dari anak -anaknya. Ada di antaranya yang menerima “sungkem” dari putra- putri tercinta, juga ikutan cucunya.

Kebahagian bagi seorang ayah dan ibu. Tetapi kebahagian sejati seorang ayah (orangtua), jika melihat anak – anaknya bahagia.

Kesedihan anak adalah kesedihan orangtua. Derita anak akan menjadi derita orangtua pula.
Tak heran, jika banyak ayah (orangtua) resah dan gelisah sebelum mengetahui kabar anaknya di rantau.

Seorang ayah akan tersenyum bahagia begitu mendengar suara anak melalui handphone yang mengabarkan sehat dan baik-baik saja.

Itulah sosok ayah yang perlu diteladani. Ayah bukan untuk ditakuti, tetapi dipatuhi. Ayah bukan untuk dikasihani, tetapi disayangi.

Ayah bukan pula ingin dihormati sebagaimana anak buah kepada majikannya, tetapi dihargai sebagai orangtua yang lebih dulu mendulang pengalaman hidup.

Tetapi yang lebih utama adalah bagaimana membentuk balutan cinta kasih antara orangtua dan anak bukanlah keterpaksaan. Tapi jalinan komunikasi penuh ketulusan dan keikhlasan.
Ketulusan akan tercipta manakala terdapat saling pengertian dan pemahaman yang sama. Masing – masing mampu menempatkan diri sesuai kondisi dan proporsinya.

Di era digital ini, jarak bukan lagi halangan. Beda waktu dan tempat tinggal bukan pula rintangan membangun silaturahmi orangtua dengan anaknya atau sebaliknya.

Di era kekinian, keteladanan seorang ayah yang rela berkorban, penuh ketabahan, ketulusan dan keikhlasan, perlu diaktualkan kembali dalam menghadapi beragam tantangan.

Bahkan, keteladanan seperti itu kian dibutuhkan sebagai penyeimbang dalam menyikapi semakin masifnya kemajuan teknologi informasi.

Perjuangan seorang ayah yang tetap mengedepankan etik dan moral dalam mencapai tujuan, meski beban berat mengguncang, merupakan gambaran keteladanan yang perlu diaktualkan.
Etik dan moral bisa menjadi filter bagi generasi milenial dan generasi net, yang cenderung serba instan. Ingin menyelesaikan masalah dengan cepat, tanpa perlu proses berliku.

Kita setuju penyelesaian masalah perlu cepat, tetapi tidak lantas mengesampingkan etik dan moral sebagai jati diri keindonesian yang telah diwariskan ayah kita, orangtua kita.
Selamat Hari Ayah. “Engkau memang bukan yang melahirkan kami, tetapi gema suara azanmu yang pertama kali mengenalkan kami kepada Tuhan..” (*)