Tuesday, 19 March 2019

Pasar, Pusar dan Pasir

Sabtu, 17 November 2018 — 4:52 WIB
dul-pasar

Oleh S Saiful Rahim

“PASAR itu harus seperti pusar alias pusat. Letaknya di tengah-tengah. Jangan seperti pasir yang berserakan ke mana-mana,” kata Dul Karung setelah mengucap assalamu alaykum dan masuk ke warung kopi Mas Wargo.

“Ah, tahu apa kau tentang pasar. Kau kan jenis manusia yang ditolak oleh pasar,” sambut orang yang duduk di ujung kanan bangku panjang.

“Bung salah. Bang Dul ini menghabiskan umur mudanya  di Pasar Bendungan Hilir. Di pertengahan tahun 1950-an ketika Pasar “Benhil” masih beratap daun aren dan alang-alang, Bang Dul sudah menjadi centeng atau preman pasar,” balas orang yang duduk tepat di sebelah Dul Karung.

“Yang ada centengnya itu pasar purbakala. Kini centeng sudah berganti dengan Satpam. Pakaiannya seragam, senjatanya pentungan dari karet. Centeng kan senjatanya golok, celananya sebatas betis yang biasa disebut pangsi, dan kumisnya tebal seperti sikat aspal jalanan yang bulunya dari ijuk aren. Sekarang yang begitu bukan zamannya lagi. Sekarang zaman modern, pasar pun modern. Pembeli model Bang Dul yang pake ngutang gak ada lagi,” sambar entah siapa dan duduk di sebelah mana, membuat Si Dul mencari-cari.

“Itu kan di pasar modern yang namanya super market. Kalo di pasar tradisional sih masih begitu. Selain bisa tawar menawar harga, tetapi juga bisa ngutang,” jelas orang duduk di dekat pintu masuk warung.

“Pasar tradisional pun sekarang akan diubah. Baik fisik bangunannya, maupun manajemennya akan dimodernisasi. Bahkan akan disediakan bioskop pula di dalamnya,” celetuk orang yang duduk di ujung kiri bangku panjang.

“Wah kalau sudah begitu, pasti pemilik kiosnya akan turut tergusur. Lihat saja yang sudah-sudah. Tiap ada pasar direhabilitasi atau dimodernisasi satu demi satu penghuninya “berganti rupa.” Wajah-wajah pemilik kios lama akan hijrah ke kios pasar-pasar lama di lain tempat. Pemilik kios-kios di pasar yang dimodernisasi berganti dengan wajah-wajah modern juga. Yang tidak berubah adalah wc yang tetap bau karena kurang perawatan. Demikian juga dengan kondisi musalla.

Bioskop? Dari dulu bioskop yang ada di dekat pasar saja nggak laku, apalagi di atas pasar. Di sekitar Pasar Senen dulu ada beberapa bioskop. Di Pancoran, Tanah Abang, Jatinegara, Sawah Besar, Pasar Baru, semua “didekati” oleh bioskop. Tapi tanpa ditempeli tulisan “Bioskop ini dijual” pun semuanya laris,” kata orang yang duduk di depan Mas Wargo yang turut mengangguk-angguk.

“Bioskop yang sekarang ada di setiap mal dan  penontonnya banyak itu, apabila kata malnya diganti dengan pasar, pasti bioskopnya tidak laku. Lihat saja “Pasaraya Sarinah” mana ada bioskopnya?” kata Dul Karung sambil meninggalkan warung Mas Wargo dan meninggalkan utang. (syahsr@gmail.com )