Thursday, 13 December 2018

ANAK MASA DEPAN

Senin, 19 November 2018 — 6:04 WIB

Oleh H. Harmoko

“JUNGKIR balik demi anak!” adalah alasan yang sering dipakai oleh orangtua dulu dan kini, yang menginginkan anak- anak mereka hidup lebih baik, mendapatkan pendidikan yang bermutu, dan bisa menyongsong masa depan lebih cerah, di tengah kondisi keluarga para orangtua yang sederhana atau pas pasan. Sekuat tenaga para orangtua bekerja demi anak-anak. “Ibarat kata, kaki buat kepala, kepala buat kaki, buat keperluan anak, “ demikian yang sering terucap dan terdengar.

Jelaslah bahwa anak -anak bukan sekedar keturunan, hasil perkawinan dan buah cinta pasangan yang saling menyayangi. Pada saatnya mereka akan tumbuh besar, dewasa, dan menjadi diri sendiri. Lalu menempuh kehidupannya masing- masing. Menjadi generasi penerus, pewaris tanah air dan negara kita.

Kita sebagai orangtua mempersiapkannya, memberikan bekal berupa asupan gizi yang mencukupi, sandang pangan, perlindungan, pendidikan, membentuk watak, dan kekuatan agar mereka bisa mandiri dan mengatasi masalahnya sendiri. Di era globalisasi kini, tantangan datang bukan hanya dari lingkungan sekitar tempat tinggal, melainkan juga dari kota, negara, dan dunia. Mereka mau tak mau terlibat.

Tidak semua orangtua, seperti kita, yang mempersiapkan segalanya demi anak. Sebagian lagi malah menelantarkannya, dengan memberi hak anak ala kadarnya. Bahkan di kalangan yang mampu secara ekonomi hanya memberikan apa yang menyenangkan anak, tak perduli dampaknya terhadap pertumbuhan mereka kelak. Sekedar melimpahinya dengan harta, memenuhi kebutuhan, tidak membentuk karakter. Tidak memberikan latihan dan tantangan, sehingga tak mampu mandiri, bahkan hingga bukan usia lagi. Tapi dewasa.

Kekerasan terhadap anak masih terjadi dan menjadi masalah lain lagi yang memprihatiankan. Kekerasan tidak hanya dalam bentuk verbal, ucapan, “main tangan” melainkan juga pengabaian hak- hak mereka, seperti bermain dan menuntut ilmu. Anak- anak diminta, bahkan diharuskan, bekerja membantu orangtua. Suatu perampasan hak dianggap lazim.

Maka, sudah selayaknya pemerintah terus berupaya memutus mata rantai kekerasan terhadap anak-anak. Dan juga penelataran terhadap mereka.

Kemajuan sebuah negara ditentukan oleh, antara lain, rendahnya kasus kekerasan terhadap anak, dan tingginya pendidikan serta kesejahteraan anak. Karena warga negara disebut maju, manakala memiliki kesadaran tinggi. Tindak kekerasan terhadap anak juga akan dihukum berat. Kini di Indonesia pun sudah ada Undang-Undang Perlindungan Anak. Karena itu jangan ada lagi kekerasan terhadap anak.

Anda bisa mengambil peran pelapor dalam pemenuhan hak dan perlindungan anak. Anak-anak adalah pewaris kepemimpinan bangsa. Indonesia di masa depan adalah milik anak-anak saat ini.

Kegigihan para orangtua telah melahirkan generasi berprestasi. Begitu banyak anak- anak Indonesia yang meraih prestasi dunia, memenangi lomba matematika, fisika, kimia, biologi, dan ilmu science lainnya. Juga di bidang agama, menjadi qari internasional.

Selain itu, ada banyak anak- anak Indonesia yang sudah bergabung dan bekerja untuk perusahaan internasional, prestasinya diakui dunia, di berbagai bidang dan disiplin ilmu.

Mari kita belajar dari para orangtua lain yang giat memotivasi dan memacu anak- anaknya untuk maju dan berprestasi: menjadi generasi yang lebih baik dari para pendahulunya, yaitu kita semua sekarang ini. Sebab setiap zaman memiliki tantangannya masing- masing, dan mereka akan menghadapi dengan bekal yang kita berikan.
Selamat Hari Anak Sedunia!