Thursday, 17 January 2019

Menyiapkan Tenaga Kerja di Era Digital

Rabu, 28 November 2018 — 6:26 WIB

REVOLUSI teknologi pasti akan terjadi dan ini tidak harus dihindari, tetapi bagaimana mengantisipasi agar terhindar dari dampak buruk yang bakal terjadi. Dalam sejarah peradaban manusia , kita mencatat setidaknya telah terjadi empat kali revolusi teknologi. Pertama, penemuan mesin uap. Kedua, elektrifikasi, ketiga penggunaan komputer, dan keempat revolusi era digital sekarang ini.

Disadari atau tidak, era digital kini sudah menyentuh semua sendi – sendi kehidupan baik sektor ekonomi, bisnis, perbankan , informasi dan komunikasi, transportasi, dan infrastruktur.

Dampak yang perlu diantisipasi adalah berkurangnya tenaga kerja manusia akibat revolusi teknologi di era digital ini.

Organisasi Buruh Internasional (ILO) memprediksi sebanyak 56% pekerjaan di Indonesia terancam akan diambil alih oleh robot akibat revolusi industri yang terjadi  sekarang ini.

Sudah banyak studi dan kajian yang bertujuan mengantisipasi dampak buruk perkembangan tekonologi digital. Tujuan kajian tersebut agar jangan sampai era digital justru makin menambah tingkat pengangguran yang saat ini di kisaran 7 juta orang. Terlebih di tahun mendatang terjadi bonus demografi dengan angka usia produktif yang membutuhkan lapangan kerja bertambah.

Era digital tak lepas dari menjamurnya bisnis era e-commerce yang masif. Ini bisa berakibat berkurangnya tenaga kerja di sektor ritel, perbankan dan jasa lain.

Angkatan kerja nasional tercatat 133,94 juta dengan pekerja 127,07 juta atau pengangguran sebanyak 6,87 juta dalam posisi Februari 2018 sesuai rilis Badan Pusat Statistik (BPS).

Yang menjadi problem berikutnya bagi Indonesia adalah adanya kenyataan bahwa 58% dari 133 juta, atau 77,140 juta, angkatan kerja berasal dari lulusan Sekolah Menengah Pertama (SMP).

Ini tantangan besar karena tenaga kerja di level ini tidak memiliki skill yang  cukup untukmerespons perkembangan tekonologi di era digital. Jika tidak disiapkan solusi, kelompok masyarakat ini akan tersisih sehingga makin  menambah jumlah pengangguran.

Menjadi kewajiban pemerintah memfasilitasi dan memberikan vokasi menyiapkan tenaga yang siap menghadapi era teknologi. Sebab, era digital tidak selalu menghasilkan dampak buruk bagi penyerapan tenaga kerja. Di sisi lain, era digital juga menyerap tenaga kerja baru. Di

Indonesia misalnya adanya transportasi online justru mampu menciptakan jutaan lapangan pekerjaan baru. Hanya saja tidak dipungkiri jumlah yang terserap lebih sedikit, ketimbang yang terbuang akibat digitalisasi dan otomisasi. Itu yang perlu diantisipasi sejak dini. ( *)