Monday, 10 December 2018

Duit Kita dan Harganya

Sabtu, 1 Desember 2018 — 6:28 WIB
dulka

Oleh S Saiful Rahim

SAMBIL mengucapkan assalamu alaykum dengan fasih, Dul Karung melangkahi ambang pintu masuk ke warung Mas Wargo. Lalu, seperti biasa, tangan pun dipanjangkan mencomot singkong goreng yang masih kebul-kebul.

“Alhamdulillah,” ucapnya setelah gigitan pertama dengan mulut dimonyongkan lantaran kepanasan.

“Enak Dul?” tanya seseorang yang entah siapa dan duduk di sebelah mana.

“Yang dirasa nikmat oleh Dul Karung bukan cuma singkongnya, melainkan juga utangnya. Beda dengan kita, Dul Karung setelah makan dan minum langsung pergi. Kalau kita kan harus membayar dulu semua makanan dan minuman yang kita telan,” kata orang yang duduk di ujung kanan bangku panjang.

“Iya ya, tahun saja beberapa hari lagi berganti, ee Si Dul begitu setia dan fanatik mempertahankan hobi ngutangnya,” sambar orang yang duduk di ujung kiri bangku panjang.

“Tetapi jangan salah sangka. Dul Karung begitu bukan tidak punya uang, tapi untuk membuktikan dia memiliki toleransi yang tinggi pada negara,” sambut orang yang duduk selang tiga di kanan Dul Karung.

“Maksud Bung?” tanya orang duduk tepat di kiri Dul Karung.

“Selama negara masih punya utang, Dul Karung takkan melunasi utang-utangnya,” jelas orang yang duduk selang tiga di kanan Dul Karung itu.

Dan suara “huuuu” yang panjang pun keluar dari hampir semua mulut hadirin.

“Tapi menurutku negara banyak berutang berkat kecerdikan mereka yang mengelola pemerintahan,” kata Dul Karung antara terdengar dan tidak.

“Macam-macam saja omonganmu, Dul. Maksudmu apa?” sambar orang yang entah siapa dan duduk di sebelah mana lagi.

“Nilai uang itu kan dari satu ke lain masa selalu berubah. Satu miliar sekarang nilainya mungkin sama dengan satu juta, lima atau sepuluh tahun mendatang. Nah, menurutku di situ kepandaian pemertintah yang mengelola suatu negara dengan cara berutang dari masa ke masa.” ucap Dul Karung seenaknya sendiri.

Dan suara “huuuu” yang lebih panjang terdengar lagi.

“Menurutku utang negara itu urusan pemerintah dan risiko mereka, atau beliau-beliau, yang setiap ada pemilu berjuang mati-matian agar terpilih. Peribasa kata, buang uang sebanyak apa pun mereka lakoni asal terplih dalam pemilu itu,” kata orang yang duduk tepat di depan Mas Wargo.

“Duit itu memang aneh,” sela Dul Karung. “Lebih –lebih duit negeri kita yang namanya rupiah. Cobalah kalian perhatikan! Duit di negeri lain ada nilainya. Yang namanya dollar, satu dollar itu bisa dibelikan sesuatu. Demikian pula dengan riyal, yen, bahkan ringgit yang negerinya baru berdiri setelah negeri kita bisa berlari. Uang satu ringgit itu bisa dibelikan sesuatu, tapi rupiah? Jangankan satu, seribu rupiah pun kalau kita berikan kepada pengemis yang paling telantar, pasti kita disumpah serapahi. Kalau bukan secara terang-terangan, ya di dalam hati mereka,” kata Dul Karung seraya pergi. (syahsr@gmail.com )