Tuesday, 26 March 2019

Jak Lingko Jadi Induk Transportasi Publik di Jakarta

Sabtu, 1 Desember 2018 — 15:00 WIB
jak lingko3

JAKARTA – Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta mengganti nama program One KarcisOne Trip (OK Otrip) dengan nama Jak Lingko, yang artinya Jakarta Berjejaring. Program ini diharapkan dapat menjadi induk dari integrasi transportasi publik di Jakarta.

Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan mengatakan melalui Jak Lingko maka bus kecil, medium, besar berjejaring akan terintegrasi dengan transportasi massal berbasis rel seperti Light Rail Transit (LRT), Mass Rapid Transit (MRT) dan commuter line serta transportasi berbasis Bus Rapid Transit (BRT) seperti Transjakarta.

“Sesuai dengan arti kata Lingko sendiri diambil dari bahasa Manggarai, Nusa Tenggara Timur (NTT), yaitu jaring laba-laba. Maka diharapkan sistem transportasi di Jakarta tersambungkan satu sama lain menjadi satu jejaring yang saling terintegrasi. Mulai dari transportasi moda angkutan umum massal jenis mikro bus, medium, besar, Light Rail Transit (LRT), Mass Rapid Transit (MRT) dan Bus Rapid Transit (BRT) semua tersambung menjadi satu sistem transportasi,” ungkap Anies.

Karena Jak Lingko meneruskan yang sudah dilaksanakan selama ini melalui program OK Otrip, maka untuk sementara waktu, Jak Lingko berada di bawah tanggung jawab PT TransportasiJakarta (Transjakarta).

“Tetapi sesudah ada MRT dan LRT, baru kita atur siapa pengelola seluruh moda transportasi massal ini. Sekarang kita serahkan dulu ke PT Transjakarta,” kata orang nomor satu di ibu kota tersebut.

Tidak hanya MRT, LRT dan BRT, Pemprov DKI Jakarta juga akan menggandeng PT Kereta Commuter Indonesia (KCI) dalam Jak Lingko. Bahkan dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) DKI Jakarta 2018-2022, Pemprov DKI akan membangun elevated loopline.

Direktur Utama PT Transjakarta, Agung Wicaksono mengatakan, telah memperluas jangkauan transportasi dengan membuka rute-rute baru. Sampai Agustus 2018, Transjakarta sudah menjangkau dua pertiga populasi di DKI Jakarta.

“Pada tahun 2015, saat itu layanan kita menjangkau 54 persen populasi Jakarta dan 42 persen wilayah Jakarta. Pada tahun ini, kita sudah dapat menjangkau 68 persen populasi dan 58 persen wilayah Jakarta. Pencapaian ini kita dapat dengan melakukan perluasan layanan integrasi bus kecil melalui penambahan kerjasama dengan para operator bus kecil secara aktif tergabung Jak Lingko,” jelasnya.

Untuk memperluas integrasi antar moda, PT Transjakarta juga telah menandatangani nota kesepahaman dengan PT MRT Jakarta terkait Studi Integrasi Transportasi Antarmoda.

Integrasi transportasi yang dilakukan, dikemukakan Agung tidak hanya dengan PT MRT Jakarta. Melainkan seluruh moda transportasi publik yang ada di Jakarta. Serta tidak hanya terintegrasi dalam rute saja. Tetapi juga akan terintegrasi dari tiket dan manajemen atau pengelolaannya.

“Diharapkan, Januari 2019, sudah ada rencana pendahuluan studi integrasi antar moda tersebut,” pungkasnya. (guruh)