Thursday, 13 December 2018

Istri Siri Menuntut Cerai Tewas Dibondet di Jalanan

Minggu, 2 Desember 2018 — 4:38 WIB
bondet

KEJAM betul kelakuan Sandiko, 40, warga Pasuruan (Jatim) ini. Gara-gara istri sirinya, Kemisih, 40, menuntut cerai melulu, dia jadi kalap. Pas bini siri pulang kerja, di jalan dicegat dengan lemparan bondet (bom ikan). Langsung Kemisih tewas di tempat, sementara Sandiko mengalami luka berat.

Lelaki itu suka egois, mementingkan diri sendiri, menyepelekan orang lain, meski itu istri sendiri. Untuk kebutuhan pribadi harus mengutamakan dan memperhatikan. Tapi giliran kepentingan istri, suami sering meremehkan. Kasih uang belanja sebulan hanya Rp 2 juta, sudah merasa banyak banget. Tapi bila minta tambahan dibilang, “Perempuan pemboros.”

Sandiko warga Pasrepan, Kabupaten Pasuruan, termasuk lelaki yang egois tersebut. Sudah punya istri pengin kawin lagi, tapi tak berani nikah resmi alias poligami. Katanya, takut digampar palang pintu, tapi harus tertunaikan dia punya nafsu. Akhirnya diam-diam dia nikah siri dengan Kemisih, perempun gebedan barunya.

Tapi ternyata Kemisih tidak keberatan meski hanya punya SIM sementara produk kiai, bukan KUA. Yang penting sudah halal, dapat jaminan hidup secara teratur. Awalnya dipenuhi, tapi-tapi lama-lama jadi mirip politisi juga. Setelah “coblosan” dan menang, melupakan istri selaku konstituen. Bedanya, kala politisi coblosannya 5 tahun sekali, tapi Sandiko bisa seminggu tiga kali mentang-mentang tak diawasi Bawaslu.

Diperlakukan seperti itu, tentu saja Kemisih protes, tapi Sandiko cuek bebek. Jika situasi tidak kondusif, dia kembali ke istri pertama. Tapi beberapa hari kemudian balik lagi ke bini siri, dan Pemilu lagi (baca: coblosan) tanpa izin KPU. Begitu selalu.

Lama-lama Kemisih capek juga, jadi istri Sandiko kok hanya surplus di bonggol, tapi minus di benggol. Akhirnya dia mengajukan opsi, agar diceraikan saja ketimbang menelantarkan anak orang. Ibarat punya kendaraan, jika tak mampu pelihara mobil bagus sebangsa Kijang Innova, ya sudah kembali ke mobil roti tawarnya saja, yang distarter cuma cekikikikikikkkkkkk……, tapi tak hidup juga.

Kemisih pun minta cerai, tapi tak ditanggapi sampai keduanya pisah ranjang. Yang bikin Sandiko risih, asal Kemisih kirim SMS dan dibuka isinya hanya kata-kata pendek “kapan kita cerai?”. Pernah HP Sandika macet gara-gara dipenuhi SMS sarat kata-kata, “Cerainya kapan?” Bahkan Sandiko pernah disebut sumber hoaks.

Klimaksnya belum lama ini Sandigo mencegat Kemisih yang baru pulang kerja. Bondet yang ada di tangan dilemparkan ke tubuh istrinya, dan meledak. Karena jaraknya terlalu dekat, bukan saja Kemisih yang tewas, Sandiki pun mengalami luka berat.

Setiap konflik rumahtangga mestinya diselesaikan dengan musyawaroh. (Gunarso TS)