Sunday, 16 December 2018

PASAR RAKYAT

Senin, 3 Desember 2018 — 13:32 WIB

Oleh Harmoko

PASAR rakyat atau pasar tradisional kini menjadi medan tempur untuk beradu isu di antara para calon presiden dan wakilnya (capres dan cawapres) yang sedang menawarkan program dan gagasan.

Masing- masingnya melontarkan fakta lapangan, dalam persepsi masing masing – setelah mendatangi pasar dan berbincang dengan para pedagang dan pembeli di sana, lalu memberikan pernyataan dalam sudut politik dan kebijakannya, sekiranya terpilih. Juga visi masing – masing ke depan, sebelum dan sesudah menjadi penentu kebijakan, di istana.

Telah lama pasar dianggap sebagai potret kondisi rakyat sesungguhnya dan kondisi masyarakat mutakhir. Pasar yang berpindah pindah di masa lalu – sesuai “hari pasaran” – juga tempat berkumpul dan bertukar kabar, informasi, pergaulan di antara sesama pembeli, dan pedagang yang berkumpul di sana.

Itu sebabnya pasar dikunjungi – sesekali – terutama menjelang pemilihan kepala daerah atau kepala negara. Jika ingin melihat kemajuan dan kemunduran masyarakat, lihatlah pasarnya.

Salah satu gambaran masa depan yang pernah disebut dalam ramalan Jayabaya atau Jangka Jayabaya adalah “pasar ilang kumandange” yang bermakna “pasar hilang keramaiannya”, karena sebagai ciri tempat berkumpul dan berjual beli sesama warga, adalah keramaiannya.

Kini pasar yang sepi terwujud dengan adanya hypermarket, supermarket, minimarket, yang sejuk, senyap, semua harga sudah tertera, dan tak ada tawar menawar. Swalayan. Stok dagangan tersedia dengan lengkap, informasi tertulis dan tertera di setiap kemasan produk yang dijual, sehingga konsumen tak perlu bertanya. Tak ada dialog, kecuali di bagian kasir. Dan itu pun dialog ala kadarnya. Keakraban di antara penjual dan pembeli – sebagaimana terlihat di pasar tradisional – perlahan hilang.

Di daerah pinggiran atau di kalangan warga ekonomi menengah bawah, pasar tradisional masih tersedia, transaksi langsung penjual dan pembeli dengan proses tawar-menawar, masih terjadi. Bangunan berbentuk kios-kios atau gerai, los dan dasaran terbuka masih seperti dulu. Dan kebanyakan menjual kebutuhan sehari-hari seperti bahan-bahan makanan berupa ikan buah, sayur-sayuran telur daging kain pakaian barang elektronik jasa dan lain-lain. Selain itu, ada pula yang menjual kue-kue dan barang-barang lainnya.

Selain “pasar ilang kumandange”, Jangka Jaya Baya meramalkan juga “kali wis Ilang kedunge” atau sungai-sungai hilang kedalamannya – sudah mulai dangkal, sebagaimana kini terwujud dalam kondisi sumber air kering, tak ada air bersih lagi. Orang kepanasan, air keruh di mana-mana.

Tak terbayangkan, ratusan tahun lalu, di tanah Jawa, ketika setiap sumur mengeluarkan air, dan kali berlimpah ruah alirannya, menyebut satu masa “kali ilang kedunge”, sebagaimana diramalkan juga “pasar kehilangan keramaiannya”.

Memenangkan pemilihan kepala daerah dan kepala negara dengan mendatangi pasar, kini menjadi keniscayaan. Karenanya pasar adalah kerumunan, tempat berbagai isu mutakhir beredar: dimana berdialog pedagang dan pembeli terjadi, lalu setelah berbincang dengan mereka, para calon pemimpin mengeluarkan pernyataan kepada media yang ikut dan menunggu – lalu menjadi salah satu materi kampanye, demi menangguk suara di bilik pemilihan.

Semoga rakyat kritis dan bijak menanggapinya. (*)