Sunday, 16 December 2018

Kendalikan Gejolak Harga Pangan

Selasa, 4 Desember 2018 — 4:37 WIB

MENJELANG akhir tahun, menghadapi perayaan Natal dan Tahun Baru, harga kebutuhan rumah tangga mulai merangkak naik. Di sejumlah pasar tradisonal di Jakarta, terpantau harga bahan pangan yang naik antara lain daging ayam, ikan, cabe rawit dan beberapa bahan pangan lainnya.

Kebutuhan sembilan bahan pokok (sembako) selalu melonjak setiap akhir tahun karena memenuhi kebutuhan Natal dan Tahun Baru. Hukum ekonomi kerap berlaku, di mana saat permintaan pasar meningkat, harga pun ikut menjulang. Keterbatasan stok jadi alasan harga naik. Kondisi ini membuat beban rumah tangga warga kian berat.

Kecurigaan ada permainan pada tata niaga bahan kebutuhan pangan dari hulu hingga hilir, mengemuka karena kenaikan harga kebutuhan seperti terjadwal. Tengkulak dan distributor selalu menjadi tertuduh, sementara distributor dicurigai melakukan permainan dengan menimbun barang. Maka, indikasi adanya mafia pangan sulit dibantah.

Mengantasipasi gejolak harga kebutuhan pokok jelang akhir tahun, pemerintah dituntut responsif, cepat bertindak menjaga keseimbangan antara stok barang dan kebutuhan sehingga harga bisa terkendali. Pengawasan rantai distribusi dari hulu hingga hilir mesti diperketat supaya tak ada penyimpangan.

Di Jakarta, langkah Pemprov DKI yang cepat mengambil tindakan dengan menyiapkan 2.500 ton beras guna mengantisipasi gejolak harga, patut diapresiasi. Dengan ‘mengguyur’ barang di pasaran, stok kebutuhan pangan menjadi berlimpah. Sehingga akan sulit bagi mafia pangan mempermainkan harga.

Tindakan intervensi yang dilakukan Pemprov DKI diharapkan jangan hanya pada komoditas beras. Gejolak jenis pangan lainnya juga tak kalah penting untuk diawasasi. Langkah penting lainnya, kesiapan aparat kepolisian mengawasi gudang-gudang guna mencegah praktik penimbunan.

Satgas pangan yang beranggotakan aparat lintas sektoral dan telah lama dibentuk pemerintah dituntut aktif memantau gejolak harga. Jangan biarkan harga-harga bergejolak semakin liar. Mahalnya kebutuhan pangan sangat memukul ekonomi masyarakat terutama kalangan menengah ke bawah. Juga berpengaruh signifikan pada inflasi.**