Thursday, 13 December 2018

Dicolak-Colek Nolak Juga Akhirnya Dicekik Sekalian

Rabu, 5 Desember 2018 — 6:50 WIB
cekik

DALAM urusan “satu itu”, kaum lelaki susah diajak kompromi. Maka Mukidin, 37, marah besar ketika istrinya, Sulastri, 36, menolak diajak hubungan intim. Sudah dicolak-colek masih ogah juga, bahkan pindah tempat tidur di lantai, Mukidin jadi kalap. Ibu satu anak itu langsung dicekik hingga wasalam malam itu juga.

Kaum tani adalah pekerja paling ulet dan kuat. Bagaimana tidak? Meski sudah capek mencangkul di sawah, di rumah malam hari masih menyempatkan juga untuk “nyangkul” bersama istri, dengan lahan tak seberapa luas. Namanya juga kuwajiban, tak dikerjakan menjadi dosa, dikerjakan dapat pahala sekaligus paha mulus juga.

Tapi Mukidin warga Todanan Blora, beberapa malam lalu benar-benar kecewa. Di kala udara Bedingin benar-benar dingin, mau cari anget-anget bersama istri kok ditolak mentah-mentah. Mukidin pun jadi lepas kontrol, dan tanpa sengaja malam itu dia naik status menjadi pembunuh berdarah dingin.

Mukidin – Sulastri sudah enam tahunan membina rumahtangga. Dari hasil kerjasama nirlaba ini telah menghasilkan momongan usia balita. Sebagai orangtua tentu saja pasangan itu sangat berbahagia. Mukidin sangat memanjakan anak semata wayangnya itu, tentu saja sesuai dengan kemampuannya sebagai petani tak berdasi.

Sebagai petani muda, Mukidin memang masih jauh lebih rosa-rosa melebihi Mbah Marijan. Habis nyangkul masih ndaut (cabut benih), sudah merupakan hal biasa. Belum lagi tamping (rapikan) pematang. Resikonya, BBN (Bahan Bakar Nasi) harus menjadi lebih banyak. Nasi sebakul bisa habis sendirian, meski sayurnya hanya jangan bobor pakai sambel jenggot.

Tapi meski capek dan loyo, malam hari jika ketemu istri jadi gagah perkasa lagi dalam segala hal. Seperti yang terjadi beberapa hari lalu, kebetulan anak semata wayangnya tidur di rumah nenek, sehingga malam itu nyaris tanpa gangguan. Baru pukul 20.00 Mukidin sudah memberi isyarat mengajak hubungan intim.

Tapi karena capek, Lastri menolak. Bahkan ketika suaminya main colak-colek macam kondektur narik ongkos, istri langsung pindah tidur di lantai beralaskan tikar. Mukidin kecewa segali, tapi dia akhirnya ikut migrasi ke bawah dan terus colak-colek istri. Eh, Lasti malah tidur tengkurep mengamankan asetnya, tentu saja Mukidin jadi marah.

Langsung saja istrinya dicekik tanpa ampun. Hanya dalam hitungan menit, Lastri meninggal kehabisan napas. Meski panik tapi Mukidin tak juga lapor ke mertua atau tetangga. Baru jam 10.00 pagi mertua datang menanyakan Lastri, kok anaknya tak diambil. “Lastri sudah nggak ada Bu.” Kata Mukidin datar.

Dikiranya mertua, Lastri sudah ke sawah. Tapi ternyata, anak perempuannya itu terbujur kaku di ranjang dalam kondisi meninggal. Gegerlah warga . Guratan di leher menimbulkan kecurigaan bahwa Sulastri tewas dicekik. Mukidin langsung ditangkap polisi. “Saya jengkel, pas ketagihan kok ditolak.” Kata Mukidin di depan petugas.

Kalau ketagihan kan bisa diatasi dengan ngemut permen. (*/Gunarso TS)