Thursday, 17 January 2019

Penanggulangan Abrasi di Pantura Ini Berbuah Eko Wisata Baru

Jumat, 7 Desember 2018 — 1:40 WIB
abrasi

KARAWANG – Sebanyak 938 kepala keluarga di Dusun Pasir Putih, Desa Sukajaya, Kecamatan Cilamaya Kulon, Kabupaten Karawang, Jawa Barat, terancam pengikisan permukaan tanah akibat hempasan ombak atau disebut dengan abrasi.

Menyikapi hal tersebut, kelompok nelayan di kawasan pantai utara Jawa Barat itu, memanfaatkan 20 hektare lahan dengan melakukan penanaman 90.000 pohon mangrove.

Selain menyelesaikan permasalahan abrasi, hutan mangrove tersebut juga bisa menjadi ekowisata terintegrasi dengan potensi terumbu karang di laut Karawang.

Sahari (50) Ketua Kelompok Petani Mangrove Pasir Putih mengatakan, masalah 938 kepala keluarga yang terancam terusir karena abrasi, saat ini kondisnya perlahan mulai teratasi dengan gerakan penanaman ribuan pohon mangrove.

abrasi2

Bahkan, diyakini Sahari, dalam waktu dekat Karawang akan memiliki destinasi eko wisata mangrove baru di Dusun Pasir Putih, Desa Sukajaya, Kecamatan Cilamaya Kulon, Kabupaten Karawang.

Keberadaan destinasi wisata ini diharapkan akan menggerakkan ekonomi warga setempat yang sebagian besar bermatapencaharian sebagai nelayan rajungan.

Saat ini walaupun pengembangan program sedang dilakukan, hutan mangrove Dusun Pasir Putih ini sudah ramai didatangi pengunjung, terutama di sore hari, di saat matahari terbenam yang menampilkan pemandangan yang indah. Diperkirakan selama setahun terakhir ini sudah terdapat sekitar 2.160 pengunjung di lokasi ini.

“Kami sangat senang, kami yakin desa kami akan maju. Untuk mencapainya, kami tidak berjalan sendiri, terdapat keterlibatan perusahaan migas PHE ONWJ dan Dinas Kelautan dan Perikanan sehingga kami optimis dusun kami bisa maju dan memperkaya tujuan wisata Karawang,” kata Sahari, Kamis (05/12/2018).

abrasi3

Selain berguna untuk menangkal abrasi, hutan mangrove ini juga memberikan manfaat untuk lingkungan berupa serapan karbon. Selain itu, mangrove juga akan mengundang ikan untuk  karena akar pohon mangrove menyimpan sumber makanan ikan.

Untuk meningkatkan kapasitas kelompok mengelola ekowisata di area pesisir, kelompok ini belajar dari binaan PHE ONWJ yakni Kelompok Tani Desa Cilamaya Girang, Kecamatan Blanakan, Kabupaten Subang telah berhasil membangun ekowisata di atas lahan seluas 2.5 hektar yang dikenal dengan nama Kapal Kehati GreenThink.

“Walaupun berbeda kabupaten, lokasi kami tidak jauh, hanya sekitar 18 km jalur darat. Kami berharap ilmu yang kami dapatkan selama mengelola ekowisata di Kapal Kehati GreenThink ini bisa kami tularkan untuk saudara-saudara kami, sehingga kami bisa saling belajar dan maju bersama,” ujar Aruji Kartawinata, Ketua Kelompok Tani GreenThink.

Selain mangrove, Dusun Pasir Putih juga dikenal sebagai salah satu sentra rajungan terbesar di Jawa Barat. Potensi ini kemudian dikembangkan dengan pembentukan kelompok UKM dari istri nelayan untuk membuat produk makanan dari rajungan.

Diharapkan kedepan semakin banyak istri nelayan yang aktif di kelompok sehingga mereka bisa berkontribusi mendukung kegiatan ekonomi keluarga. Inovasi program ekowisata mangroeve sebagai salah satu solusi.

Selama ini program sabuk pantai dengan pembangunan turab yang memakan biaya yang cukup mahal merupakan program pemerintah. Namun alternatif lainnya yaitu berupa pengembangan program ekowisata mangrove di dusun Pasir Putih, Desa Sukajaya menjadi bagian yang berkontribusi terhadap penyelesaian masalah abrasi ini.

Berawal dari inisiasi masyarakat setempat melalui kelompok kerja pemberdayaan masyarakat pesisir (KKPMP) bekerjasama dengan Dinas Kelautan Perikanan Kab. Karawang melalui Program Pusat Restorasi & Pembelajaran Mangrove serta dukungan dari PT.PHE ONWJ melalui program unggulan pemberdyaan masyarakat.

Sejak program kemitraan ini berjalan, telah menghasilkan perubahan yang sangat signifikan bagi ekosistem pesisir dan perubahan perilaku masyarakat setempat.

Cakupan lahan mangrove seluas 20 Ha ini telah ditumbuhi lebih dari 96 ribu lebih mangrove. Penunjang fasilitas edukasi menjadi bagian penting dalam program ini, telah dibangun jalan trekking lebih dari 200 meter, sarana air bersih dan saung pertemuan.

Keberadaan program ini memiliki potensi ekonomi yang menjanjikan, jumlah pengunjung yang meningkat terutama di hari libur menjadi gambaran bahwa ke depannya akan menjadi destinasi wisata pesisir di Karawang.

Peran PHE ONWJ dan Dinas Kelautan Kabupaten Karawang memiliki tujuan yang sama yaitu menciptakan kawasan pesisir yang berkelanjutan lingkungan serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat setempat.

Sebagai pusat pendidikan lingkungan bagi seluruh sekolah dan warga karawang sehingga paham untuk berpartisipasi dalam perbaikan lingkungan di sekitar kita. (dadan/win)