Monday, 20 May 2019

Dan DPR pun Potensial Terjual

Sabtu, 8 Desember 2018 — 6:20 WIB
cari

Oleh S Saiful Rahim

“DUIT itu memang benar-benar setan ya,” gerutu orang yang baru masuk ke warung kopi Mas Wargo dengan wajah tidak enak dipandang.

“Kalau tadi dia masuk dengan mengucap assalamu alaykum dulu pasti setannya lari,” bisik orang yang duduk di ujung kiri bangku panjang kepada orang yang duduk di sebelahnya.

Orang yang dibisiki pun menganggukkan kepala sambil tersenyum.

“Jadi kita ini yang bekerja, berdagang, dan semua orang yang setiap hari mencari duit sama dengan mencari setan, ya?” tanggap orang yang duduk di ujung kanan bangku panjang seraya meletakkan gelas kopi yang isinya baru direguk.

“Ya, boleh dibilang begitu. Kan ada orang yang mencari duit dengan cara berdagang, tapi praktiknya tipu-tipu dikitlah. Ada yang cari duit dengan cara bekerja, tapi praktiknya lipat sana-sini dikitlah. Bahkan sekarang sih lebih banyak yang bekerja dengan tujuan bisa korupsi. Itulah sebabnya banyak orang yang rela menyogok demi mendapat kursi, atau bangku panjang pun jadilah, asalkan adanya di kantor pemerintah,” sambar orang yang tadi berkata duit itu benar-benar setan.

“Ada juga di antara kita orang yang cari bangku di warung Mas Wargo ini demi makan minum hari ini, tapi bayarnya nanti saja sehari sebelum kiamat,” kata entah siapa dan duduk di sebelah mana, tapi mampu membuat tawa para hadirin meledak. Kecuali Dul Karung dan Mas Wargo saja yang seperti tiba-tiba menjadi tuli.

“Bila ada anggapan di antara kita ada orang yang duduk di bangku warung kopi ini karena di sini gampang berutang, aku pikir itu tidak apa-apa. Tradisi berutang itu sebenarnya sudah lama harus dimasukkan sebagai bagian dari budaya kita yang besar,” kata orang yang entah siapa, yang berbusana necis dan beraura cerdas.

“Yang perlu kita khawatirkan bukannya itu. Tetapi makin banyaknya uang masuk ke dalam dunia politik. Maksudku begini! Sekarang semua partai politik buka kocek besar-besar. Meminta sumbangan siapa saja yang tinggi syahwatnya untuk jadi caleg, calon menteri, cagup dan segala macam jabatan daerah. Nah, itu kan gerbang masuknya para konglomerat, dan segala macam tauke. Lama-lama apa pun bisa dibeli di negeri ini,” sambung orang itu sambil mengeluarkan hp dan cas cis cus bicara soal duit entah dengan siapa.

“Satu lagi yang saudara-saudara perlu tahu. Semua yang kukatakan bukan pandai-pandaiku saja. Tapi sinyalemen Ketua DPR dan Mendagri,” kata orang itu seraya membayar apa-apa yang dimakan dan diminumnya sambil pergi.

Kali ini Dul Karung cuma jadi juara kedua, kalah cepat meninggalkan warung. Tetapi tetap jadi juara utang-berutang. ( Syahsr@gmail.com )