Monday, 21 January 2019

Hobi Baru Pejabat Daerah

Sabtu, 15 Desember 2018 — 5:28 WIB
dul-ketemu ibu menteri

Oleh S Saiful Rahim

“SAYA usul mulai besok, atau selambat-lambatnya akhir tahun 2018, warung kopi ini ditutup Mas,” kata seorang pelanggan ketika dia baru saja masuk ke warung kopi Mas Wargo.

“Astaga, punahlah satu-satunya tempat Dul Karung bisa berutang sepanjang hidupnya,” timpal orang yang duduk di dekat pintu masuk seraya bergeser memberi tempat duduk kepada orang yang baru masuk.

Dan gelak tawa yang panjang pun riuhlah di segenap ruang warung. Kecuali di mulut Dul Karung dan Mas Wargo.

“Tunggu dulu! Mengapa warung kopi ini harus ditutup di saat kopi sedang menjadi putra mahkota minuman di seluruh dunia?” protes orang yang duduk di ujung kiri bangku panjang. Satu-satunya tempat duduk seluruh pelanggan warung kopi Mas Wargo.

“Karena Menteri Keuangan RI Sri Mulyani mendapat fakta sekarang banyak pejabat daerah yang gemar jalan-jalan. Termasuk jalan-jalan ke Jakarta. Nah, karena sekarang kopi sedang jadi putra mahkota minuman, tidak mustahil pejabat daerah yang gemar jalan-jalan itu ramai-ramai akan mampir ke warung Mas Wargo ini, sekadar mencicipi kopi,” kata orang itu dengan yakin dan juga mencoba meyakinkan hadirin yang lain.

“Tak mungkinlah itu. Kalau kata pelawak grup “Srimulat” dulu, itu hil-hil yang mustahal, alias hal-hal yang mustahil,” potong orang yang duduk tepat di depan Mas Wargo.

“Iyalah,” sambar orang yang yang duduk tepat di kiri Dul Karung.

“Mereka, eh beliau-beliau, itu kan pejabat jadi tidak mungkin minum di warung kakilima seperti ini yang di daerah beliau pun banyak. Selama berada di kota metropolitan seperti Jakarta, apalagi bila berada di luar negeri, beliau minum di coffee shope yang ada di hotel tempat beliau-beliau menginap. Jadi tidak ada sangkut pautnya dengan warung kopi Mas Wargo ini,” sambung orang yang duduk di kiri Dul Karung lagi.

“Tunggu dulu. Yang dipersoalkan oleh Ibu Sri Mulyani adalah pejabat-pejabat daerah yang suka jalan-jalan. Mengurus satu masalah saja harus berulang kali mondar-mandir. Di mata beliau, itu cuma buang waktu dan buang duit saja. Mondar-mandir dengan biaya sendiri saja sudah membuang waktu dan duit, apalagi biayanya uang negara? Itu sih semacam korupsi dengan cara yang berbeda,” serobot orang yang duduk selang tiga di kanan Dul Karung.

“Boleh jadi pejabat-pejabat daerah itu bukan senang karena mondar-mondir dan jalan-jalannya, tapi karena bangga dapat berulang kali bertemu Sri Mulyani, satu-satunya perempuan Indonesia yang pernah menjadi direktur Bank Dunia. Dan satu-satunya perempuan ekonom kita yang namanya mendunia,” tanggap orang yang duduk di ujung kanan bangku panjang.

“Mas tolong hitung semua makanan dan minuman yang saya habiskan. Lalu satukan dengan seluruh bon saya yang sebelumnya,” kata Dul Karung sambil buru-buru berdiri.

“Eh, mau ke mana kau Dul?” tanya entah orang yang duduk di sebelah mana.

“Mau ketemu Ibu Menteri Sri Mulyani,” jawab Dul Karung di ambang pintu.

“Ngapain?” tanya orang itu lagi.

“Mau beri tahu bahwa kalau tidak ada orang yang suka mondar-mandir, program dan proyek wisata berantakan.”( Syahsr@gmail.com )