Wednesday, 17 July 2019

Kisruh Kotak Suara Kardus, Ini Komentar 2 Kubu Kontestan Pilpres 2019

Minggu, 16 Desember 2018 — 20:33 WIB
Contoh kotak suara yang akan digunakan pada Pemilu 2019. (rihadin)

Contoh kotak suara yang akan digunakan pada Pemilu 2019. (rihadin)

JAKARTA – Kotak suara kardus menjadi polemik. Dua kubu kontestan Pilpres 2019 pun silang pendapat.

Wakil Sekretaris Jenderal (Wasekjen) Partai Solidaritas Indonesia, Satia Chandra Wiguna tidak ada masalah dengan keputusan Komisi Pemilihan Umum (KPU) RI untuk menggunakan kertas kardus sebagai bahan kotak suara.

“Kami justru mengapresiasi keputusan tersebut karena telah sesuai dengan undang-undang yang mengharuskan transparan, serta jauh lebih ekonomis ketimbang alumunium,” katanya, Minggu (16/12/2018).

Menurutnya, rencana penggunaan kertas kardus sudah dituangkan dalam draft PKPU tentang logistik dan dibawa ke dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) Kemendagri dan Komisi 2 DPR pada Maret 2018. Penggunaan kertas kardus, imbuhnya, jugabukan untuk pertama kali. Pada Pemilu 2014, Pilkada 2015, 2017, dan 2018, kertas kardus juga dipakai.

“Dalam RDP itu, semua fraksi menyetujui penggunaan kardus, tanpa kecuali. Tapi kenapa sekarang beberapa partai, misalnya Gerindra, menyoal? Kertas kardus sudah dipakai saat itu meski hanya pengganti. Saat itu tidak ada heboh seperti sekarang. Mengapa sekarang dipermasalahkan?” tandasnya.

Sementara itu, Wasekjen Partai Gerindra, Andre Rosiade, menyebutkqan partainya yang mengusulkan kotak suara dibuat transparan. Namun saat itu, imbuh Andre, KPU RI memberi contoh dengan kotak suara berbahan kardus. Selain itu, hanya terdapat satu sisi yang transparan.

“Partai gerindra adalah partai yang mengusung atau mengusulkan kotak suara itu transparan. Kita berpikir transparan itu dari plastik atau mika. Ternyata setelah disepakati KPU ternyata memberi kita contoh yang kardus. Dimana kardus yang transparan satu sisi. Padahal kita menginginkan enam sisi,” tuturnya kepada poskotanews.com.

Fraksi Gerindra sempat mempertanyakan spesifikasi kotak suara saat Rapat Dengar Pendapat (RDP) di Komisi II DPR RI. Menurut Andre saat itu KPU beralasan mempunyai keterbatasan anggaran sehingga memakai bahan kardus.

“Tentu kami mempertanyakan. Di rapat RDP komisi II sudah kita tanyakan. Kenapa pilih kardus begini kenapa gak mika. KPU menyampaikan keterbatasan anggaran,” ungkapnya.

Juru bicara tim kampanye Prabowo Subianto – Sandiaga Uno itu mengatakan kritik yang dilontarkan semata untuk menjaga kontestasi Pemilu tetap berjalan adil dan transparan.

“Untuk itu kita mengkritisi, mengingatkan KPU agar benar-benar berhati-hati agar jangan sampai, kalau kardus itu kan kena air gimana, kalau kena banjir atau nanti ada rayap gimana? Itu saja kita ingin menjaga kontes pemilu. Dan kita sudah pertanyakan dan dijawab normatif oleh KPU,” tandasnya.

“Kita harap kotak suara harus kuat. Harus berhasil melindungi suara dari gangguan baik dri kerusakan kotak suara membuka secara paksa. Pertanyaannya kardus itu sanggup gak menghadapi itu?” pungkas Andre. (ikbal/yp)