Wednesday, 17 July 2019

Ma’ruf Amin Heran Jokowi Dicap Anti Islam

Minggu, 16 Desember 2018 — 19:33 WIB
Ma'ruf Amin saat silaturahmi dengan nahdliyin di Banten. (ist)

Ma'ruf Amin saat silaturahmi dengan nahdliyin di Banten. (ist)

JAKARTA – Calon wakil presiden nomor urut 01, Ma’ruf Amin, heran dengan cap anti-Islam yang kerap diarahkan kepada Presiden Joko Widodo. Padahal menurutnya, banyak upaya pembelaan terhadap umat Islam direspon positif oleh Jokowi.

Ma’ruf menuturkan pernah mengusulkan konsep ekonomi Islam sangat penting bagi umat dan potensial meningkatkan ekonomi nasional. Usulan tersebut, katanya, direspon Jokowi dengan membentuk Komite Nasional Keuangan Syariah.

“Kemudian Pak Jokowi setuju membentuk Komite Nasional Keuangan Syariah. Saya usulkan juga agar Presiden langsung yang menjadi ketua Komitenya,” tuturnya saat Silaturahmi dengan Nahdliyyin Kabupaten, Kota Serang dan Kota Cilegon, di Pondok Pesantren An-Nawawi Tanara (Penata) Serang, Banten, Minggu (16/12/2018).

Kepada Presiden, Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) juga meminta pemerintah untuk lebih memperhatikan pondok pesantren. Jokowi, jelas Ma’ruf kembali memberi respon positif melalui RUU Pesantren.

“Saya bilang, Pak Jokowi, Pesantren-pesantren tradisional itu berdiri dan bergerak secara swadaya, mandiri. Sementara sekolah dan pesantren yang dibangun kelompok Wahabi, bantuannya berlimpah dari Saudi dan negara Wahabi lainnya. Maka saya usulkan agar pemerintah bisa membantu pesantren. Agar bisa berkembang juga,” urainya.

“Karena butuh cantolan hukum dalam penggunaan APBN, maka diperlukan adanya UU Pesantren. Dan itu didengarkan oleh Pak Jokowi hingga lahirlah RUU Pesantren,” imbuh Ma’ruf.

Mantan Rais Aam PBNU itu merasa tak habis pikir masih terdapat pihak yang mencaci Jokowi bahkan melalui mimbar-mimbar khutbah.

“Makanya Pak Yusril mengatakan, Pak Jokowi lebih mau mendengarkan ummat. Tapi kenapa Jokowi selalu dibilang anti Islam, sampai-sampai dicaci-maki, dihujat di pengajian dan khutbah-khutbah Jumat. Orang Islam dikafir-kafir. Padahal dakwah, berkhutbah itu harus lemah lembut. Menegakkan Ammar Ma’ruf itu harus dilakukan secara santun,” tandasnya.

Lebih lanjut, Ma’ruf melihat terdapat pemahaman keagamaan yang berbahaya di Indonesia. Dia mengingatkan agar Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019 tidak melahirkan pemimpin yang tidak selaras dengan Ahli Sunnah Wal Jamaah (Aswaja)

“Di Iran sebagai tempat berdakwahnya Imam Ghazali, karena ganti penguasa, kemudian dimarginalkan Aswaja. Di Arab juga sama, di sana dulu tempat mengajinya para ulama Aswaja. Ketika Saudi berkuasa, ditetapkan Wahabi sebagai madzhab negara. Akhirnya Aswaja dikikis,” katanya.

“Kita harus mulai door to door, menemui kyai-kyai kampung, mendekati warga agar berjuang bersama untuk memenangkan Pilpres ini,” tuntas Ma’ruf. (ikbal/yp)