Monday, 21 January 2019

Bicara Baik di Tahun Politik

Senin, 17 Desember 2018 — 6:00 WIB

Oleh H. Harmoko

DI TAHUN politik ini, mari kita bicara baik- baik. Selalu berprasangka baik dan berbuat baik. Berupaya menanam dan menyebarkan kebaikan saja, jangan yang lainnya. Karena hanya kebaikanlah yang bisa memperbaiki berbagai masalah bangsa kita saat ini. Berikan kesempatan orang-orang baik berkiprah di dunia politik, agar orang-orang yang tidak baik tersingkir.

Kita sudah lelah dengan ketidakbaikan. Prasangka buruk dan jahat, mendengar dan membaca berita buruk dan berita palsu, di media sosial, khususnya yang meresahkan semua. Hanya kebaikanlah yang bisa menyudahinya. Kebaikan hati merupakan sifat Ilahi.

Kita dapat meniru sifat- sifat nabi dengan meluaskan jangkauan kebaikan hati kita. Bukan hanya di antara keluarga, teman, melainkan juga kepada semua orang.

Kita bangsa Indonesia, akan memilih presiden dan wakilnya, serentak dengan anggota legislatif pada April 2019 mendatang. Ini peristiwa pertama dan ujian bagi bangsa kita, bagi sistem demokrasi yang kita pilih. Sebelumnya kita telah menggelar 171 pemilihan kepada daerah (pilkada) secara langsung, dan berlangsung relatif damai. Kalaupun ada sedikit letupan di sana sini, itu hanya bagian dari bunga -bunga demokrasi.

Semua agama besar yang dianut umatnya di negeri Pancasila, sebagai ideologi yang mempersatukan kita, mengajarkan kebaikan. Berbuat kebaikan. Nilai nilai asing bisa kita terima dan terapkan sejauh menerapkan dan menghasilkan kebaikan untuk semua.

Karena itu, tak ada tempat untuk menyakiti, dan merusak suasana yang sudah terjalin baik. Kita menjaga persatuan dalam kebhinekaan.

Berbeda itu biasa. Beda suku, beda agama, dan beda tata cara kehidupan. Juga beda dalam pilihan partai politik. Sah. Namun kebaikanlah yang harus menjadi hasil akhirnya. Kebaikan untuk bangsa, untuk semua.
Kesabaran adalah cara membina diri yang paling baik. Jangan menyakiti atau menindas orang lain, jauhi dan hindarkan semua perbuatan jahat, menambah kebaikan, membersihkan pikiran sendiri. Itulah landasan ajaran dari semua agama.

Tidak berbicara jahat, tidak menyakiti, merawat iri dan dengki, mengendalikan diri sesuai dengan penghayatan ajaran agama masing -masing, makan sesuai dengan kebutuhan, tidak serakah, banyak beramal, dan terus berupaya meluruskan dan meluhurkan pikiran, itulah ajaran kabaikan dari semua agama.

Kejahatan akan pembawa penderitaan bagi makhluk lain, bahkan penyebab utama bencana bagi dunia ini. Lebih dari pada itu, kejahatan adalah perusak kehidupan kita sendiri. Karena itu, janganlah kita berbuat jahat.

Kejahatan tidak pernah disetujui oleh hati nurani umat manusia, kata para arif bijaksana. Kejahatan tidak pernah mendapat kompromi dari semua ajaran agama.

Jadikan nasehat “jangan berbuat jahat” kepada diri sendiri, sebelum menyampaikannya kepada orang lain. “Dont be Evil” – begitulah motto perusahaan internet Google, yang kini jadi rujukan generasi milenial.

Lakukan hal yang benar: jangan berbuat jahat. Utamakan kejujuran dan integritas dalam semua hal yang kita lakukan. Lakukan kegiatan dengan landasan kebaikan. Dalam bermusyawarah, hasilkan keputusan yang baik, dengan cara baik. Itulah ajaran universal.

Sebagaimana ditandaskan dalam peribahasa dari Timur, ”Satu kata yang baik bisa menghangatkan tiga bulan musim dingin.”

Nabi Muhamad SAW pun mengingatkan kita, “Jika kita tidak mampu berbicara baik, maka lebih baik diam.” (*)