Wednesday, 16 January 2019

Kepala Desa: Masalah TPA Sampah Burangkeng Bekasi Perlu Segera Diselesaikan

Senin, 17 Desember 2018 — 23:30 WIB
Sampah di perumahan wilayah Tambun Selatan, tidak lancar lagi diangkut akibat kondisi TPA Burangkeng yang penuh dan ancaman warga sekitar. (saban)

Sampah di perumahan wilayah Tambun Selatan, tidak lancar lagi diangkut akibat kondisi TPA Burangkeng yang penuh dan ancaman warga sekitar. (saban)

JAKARTA – Kabupaten Bekasi akan jadi kota sampah manakala Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sampah Burangkeng, Kecamatan Setu, tidak diperhatikan pemerintah.  Warga yang terkena dampak bau, perlu mendapat perhatian. Sebab, TPA di dekatnya, warga mendapat perhatian itu dari pemerintah terkait.

Kepala Desa Burangkeng Nemin menilai, apabila persoalan di TPA itu tidak segera terselesaikan, maka akan jadi bom waktu di tengah masyarakat, “Masyarakat punya hak untuk melakukan apa saja jika lingkungannya terganggu,” kata Kades.

Dia juga menyebutkan, kalau ada masyarakat yang menginginkan TPA seluas 11,8 hektar itu ditutup, dia tidak dapat berbuat apa-apa, “Kalau saya melarang nanti dikira saya ada main dan memperoleh keuntungan dari TPA,” tandasnya.

Nemin juga meminta Badan Permusyawaratan Desa (BPD) agar segera mengambil sikap terhadap TPA Burangkeng. Alasannya, selama 22 tahun berdiri, TPA Burangkeng tidak diperluas dan tidak dikelola secara modern. Sementara TPA itu sudah berstatus ‘over load’.

Salah satu anggota DPR RI Komisi V, Wardatul Asriah pun mendengar khabar tidak enak soal TPA Burangkeng. Menurutnya, para anggota DPRD terutama yang membidangi lingkungan hidup harus melakukan pendekatan kepada masyarakat.

“Supaya bisa dicarikan solusinya, agar pihak pemangku kepentingan bisa mendengar aspirasi dari masyarakat dan masyarakat legowo,” kata Wardatul, saat sosialisasi Caleg di Cibitung.

“Kalau ada hal-hal yang mengakibatkan pergerakan massa, supaya tidak sporadis harus ada pendekatan persuasif dulu. Sehingga bisa dicarikan solusinya,” ucap istri Surya Darma Ali ini.

Sejumlah permasalahan mencuat dari TPA Burangkeng, yakni ketiadaan kajian mengenai lingkungan setempat dan ketiadaan uang kompensasi bau.

Sementara itu beberapa petugas kebersihan yang biasa mengangkut sampah di perumahan mengaku, saat ini lokasi pembuangan di TPA Burangkeng, sudah penuh dan tidak ada jalan lain, selain menunda pengambilan sampah di perumahan, “Kalau tiap dua minggu sekali pasti antri di TPA nya,” kata Rusman, sopir truk sampah UPTD Tambun Selatan. (saban/win)