Saturday, 17 August 2019

Mari Kita Peduli

Kamis, 20 Desember 2018 — 4:36 WIB

Oleh H.Harmoko

SULIT dipungkiri, problematika kesejahteraan sosial masih menghadang negeri kita.Tidak saja belum tuntasnya masalah kemiskinan, ketelantaran, dan ketertinggalan yang berujung kepada kesenjangan sosial. Juga masalah kebencanaan, kebinekaan dan ketidakadilan.

Beragam upaya telah dilakukan pemerintah untuk mengatasi problema sosial tersebut. Secara bertahap sudah membuahkan hasil seperti menurunnya angka kemiskinan. Begitu juga pembangunan infra struktur yang dilakukan secara masif untuk membuka sekat – sekat kesenjangan sosial.

Meski begitu kerja keras masih harus dilakukan mengingat masalah kesejahteraan sosial begitu kompleks, menyangkut banyak aspek kehidupan manusia. Maka untuk mengatasinya tidak cukup hanya menggunakan pendekatan ekonomi semata.

Pendekatan sosial budaya, dengan menggerakkan kekuatan sosial masyarakat perlu dikemas menjadi satu solusi.

Sejarah telah membuktikan bahwa semangat kesetiakawanan sosial mampu mengatasi sejumlah persoalan negeri ini. Bahkan, bangsa Indonesia mencapai kemerdekaan berkat semangat kesetiakawanan sosial yang tinggi.

Kegotong-royongan, kebersamaan, dan kekeluargaan seluruh rakyat Indonesia sebagai wujud kesetiakawanan sosial sudah teruji mampu merebut dan mempertahankan kemederkaan di masa pergolakan. Tak heran jika pemerintah terus berusaha memupuk nilai – nilai kesetiakawanan sosial melalui sejumlah peraturan yang dikeluarkan sejak tahun 1958, kemudian diupdate tahun 1976 dan tahun 1983.

Tujuannya agar nilai – nilai yang dimaksud terus dikukuhkan serta diaktualkan menghadapi tantangan permanen dari masa ke masa. Tantangan yang dihadapi kini bukan lagi perjuangan secara fisik mengusir penjajah, tapi peperangan menghadapi berbagai masalah sosial yang menimpa bangsa Indonesia.

Seiring dengan kemajuan teknologi dan komunikasi, masalah sosial yang dihadapi semakin kompleks. Tidak saja pemenuhan terhadap unsur- unsur kesejahteraan sosial, tapi juga menuntut adanya perhatian khusus terhadap persoalan intoleransi dan fanatisme komunal.

Ujaran kebencian, saling menghujat satu dengan yang lain bermunculan di ruang media sosial. Tak jarang menjadi viral melalui messenger. Belum lagi kegaduhan politik yang seolah silih berganti.

Menghadapi realitas problema sosial seperti sekarang ini, asanya makin diperlukan kehadiran nilai- nilai kesetiakawanan sosial dalam kehidupan sehari – hari.
Kesetiakawanan sosial bisa dijadikan instrumen terciptanya kesejahteraan masyarakat melalui gerakan peduli dan berbagi.

Diyakini gerakan ini dapat dilaksanakan secara individu maupun bersama – sama berdasarkan nilai kemanusiaan, kebersamaan, kegotongroyongan dan kekeluargaan. Syaratnya, harus dilakukan secara terencana, terarah dan berkelanjutan.

Di sisi lain, kesetiakawanan sosial dapat dikemas sebagai sarana meredakan isu fanatisme kelompok, ujaran kebencian dan saling hujat.

Itulah sebabnya makna kesetiakawanan perlu diselaraskan. Kesetiakawanan bukanlah setia kepada kawan atas dasar ikut-ikutan, bukan pula untuk pamer saling menghujat antaranak bangsa melalui media sosial.

Perlu kecerdasan dan kebijakan dalam memilih dan memilah informasi berdasarkan kebenaran, bukan pembenaran individu dan kelompok.

Perlu kiranya kembali memaknai bahwa kesetiakawanan sosial merupakan nilai, sikap, dan perilaku yang harus dilandasi dengan pengertian, kesadaran, dan tanggung jawab bersama untuk mengatasi dan menanggulangi berbagai masalah sosial secara bersama – sama.

Di dalamnya ada proses empati, rasa peduli, rela berkorbam, saling membantu tanpa melihat latar belakang kesukuan, agama, ras, warna kulit, kelompok atau golongan mana pun.
Kesetiakawanan sosial diharapkan bisa menjadi gaya hidup.

Siapa yang memulai? Jawabnya kita semua. Dimulai dari lingkup terkecil. Memulai dari diri sendiri. Karena individulah yang mengelola ritme kesetiakawanan terhadap diri sendiri maupun kepada orang lain.

Jika kesetiakawanan ini sudah berhasil dilakukan dengan baik terhadap diri sendiri, maka kesetiakawanan terhadap sesama manusia akan dapat diselaraskan dengan kehidupan nyata. Insya Allah. (*)