Friday, 19 July 2019

Ini Pesan MUI Hadapi Natal dan Tahun Baru

Jumat, 21 Desember 2018 — 21:48 WIB
Ketua Bidang Pendidikan dan Kaderisasi MUI  KH Abdullah Jaidi dan Wakil Sekjen MUI Amirsyah Tambunan saat memberikan keterangan di Kantor MUI, Jakarta (ist)

Ketua Bidang Pendidikan dan Kaderisasi MUI KH Abdullah Jaidi dan Wakil Sekjen MUI Amirsyah Tambunan saat memberikan keterangan di Kantor MUI, Jakarta (ist)

JAKARTA  – Menjelang Natal pada 25 Desember 2018 , Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengimbau para pengusaha untuk tidak memaksa karyawannya menggunakan atribut,  atau simbol-simbol yang tidak sesuai dengan keyakinan dan kepercayaan mereka.

“Ini demi terjaga dan terpeliharanya kerukunan dalam kehidupan antar umat beragama,” kata Ketua Bidang Pendidikan dan Kaderisasi MUI Pusat KH Abdullah Jaidi di Kantor MUI, Jakarta,  Jumat 21/12). Dalam keterangannya didampingi,  Wakil Sekjen MUI Amirsyah Tambunan.

Pernyataan MUI itu merupakan tausyiah dalam rangka pergantian Tahun Baru. Dalam acara tersebut, MUI juga menyoroti situasi terkini, baik dalam maupun luar negeri. Mulai dari Natal, pergantian Tahun Baru, sampai pandangan MUI terhadap Muslim Uyghur,  termasuk pandangan soal penyelenggaraan Pilpres dan Pileg 2019.

“MUI mengimbau para pengusaha dan  pihak terkait lainnya agar dalam suasana Natal dan pergantian tahun ini tidak memaksa, atau mendorong, atau mengajak karyawan yang beragama Islam memakai atribut-atribut dan atau simbol-simbol yang tidak sesuai dengan keyakinan dan kepercayaan mereka,” kata Abdullah Jaidi.

Khusus dalam menghadapi pergantian tahun dan datangnya tahun baru 2019 M, MUI mengajak dan mengimbau masyarakat luas untuk menyambut dan menyongsong tahun baru tersebut dengan penuh syukur dan kesederhanaan, tidak hura-hura dan menghindari pola hidup yang bersifat materialistik, konsmneristik.

MUI menyerukan kepada seluruh rakyat Indonesia untuk terus berusaha menjaga dan meningkatkan persatuan dan kesatuan serta menjauhi falsafah dan pandangan hidup yang bertentangan dengan falsafah Pancasila dan UUD 1945.

Semua itu agar bangsa ini tetap dapat berdiri kuat dan kokoh, sehingga yang menjadi cita-cita kita bersama, yaitu terciptanya Baldatun Thayyibatun wa Rabbun Ghafur (negeri yang subur dan makmur, adil dan aman) serta rakyatnya hidup dalam kesejahteraan dan keadilan serta dilindungi oleh Allah SWT dapat terwujud. (johara/win)