Monday, 20 May 2019

Politik dan Tas Plastik

Sabtu, 22 Desember 2018 — 4:36 WIB
gajelassssss

Oleh S Saiful Rahim

“WAH, sampah plastik makin jadi masalah saja, ya?” kata lelaki berpakaian perlente sambil memesan kopi susu, dan duduk tepat di depan Mas Wargo.

“Ngomong-ngomong warung ini pada Hari Natal dan Tahun Baru tutup apa tidak ya, Mas?” sambungnya sambil tangannya mencomot talas goreng.

“Wah, warung kopi ini kalau bukan Hari Kiamat gak mungkin tutup. Sebab kalau warung ini tutup seorang warga negara Indonesia akan kehilangan hak berutang,” jawab seorang yang entah siapa dan duduk di sebelah mana.

Ledakan tawa pun bergema dari semua mulut yang ada. Kecuali mulut Dul Karung, Mas Wargo dan orang yang bertanya yang malahan tampak bingung.

“Saudara kita yang seorang ini pernah bersumpah seperti Gajah Mada. Bedanya kalau Gajah Mada bersumpah tak akan makan palapa, dia bersumpah tidak akan makan dan minum di warung ini tanpa berutang,” kata orang yang duduk di ujung kiri bangku panjang, membuat suara tawa kain meledak-ledak.

“Maaf saya bukan penduduk daerah sini. Saya cuma diminta menjaga rumah saudara saya yang selama Natal dan Tahun Baru mau tamasya entah ke mana,” kata orang itu lugu.

“Jangan kuatir, Pak. Warung Mas Wargo ini tidak pernah tutup. Bahkan dia telah menulis surat minta izin untuk buka terus pada Hari Kiamat. Hanya dia tidak tahu surat itu harus dikirim ke kantor apa,” jelas orang yang duduk tepat di kiri Dul Karung.

“Cuma sekarang apa yang kita beli di sini tak bisa lagi dibawa pulang. Sebelum ada seruan larangan atau batasan penggunaan tas plastik, si pemilik warung telah mengharamkan tas plastik dan menggantinya dengan tas atau selongsong kertas. Tapi di musim hujan seperti sekarang tas kertas susah digunakan. Karena kertas mudah sobek bila kena air,” jelas entah siapa dan duduk di sebelah mana.

“Iya ya. Mestinya pemerintah cepat-cepat membuat pengganti tas plastik. Jangan cuma bisa melarang saja dong,” entah kata siapa.

“Eh, jangan memburukkan pemerintah di warung kopi! Nanti kusuruh tutup warung ini,” ancam orang yang duduk di dekat pintu masuk.

“Wah, gawat nih! Gara-gara kampanye menjalar liar, aku bisa kehilangan tempat makan dan minum yang boleh diutang. Benar juga bila orang bilang politik bila salah menggunakannya bisa bikin kotor seperti kantong plastik,” gerutu Dul Karung seraya meninggalkan warung.***