Monday, 21 January 2019

REFLEKSI DIRI

Senin, 24 Desember 2018 — 6:50 WIB

Oleh H.Harmoko

BEBERAPA hari lagi tahun 2018 akan berakhir dan berganti menjadi tahun 2019 Masehi. Sejenak perlu kita merefleksi diri terhadap  apa  saja yang sudah kita lakukan sepanjang tahun 2018 dan apa yang akan kita berbuat kemudian.

Waktu memang tidak berjalan mundur. Sudah menjadi sunnatullahbahwa waktu akan terus bergulir dan berganti dari detik menjadi menit, berubah menjadi jam, kemudian bergerak menjadi hari – bulan – tahun dan begitu seterusnya.

Dalam perputaran waktu tentu terdapat tanda – tanda. Sesuatu yang sudah kita alami, jalani dan bisa kita maknai. Kita sepakat kejadian masa lalu memang tidak untuk disesali, tetapi perenungan pengalaman masa lalu diperlukan sepanjang dapat dijadikan bahan evaluasi dan  introspeksi  agar perjalanan ke depan menjadi lebih baik lagi.

Kita telah menyaksikan rangkaian peristiwa yang terjadi di negeri kita. Baik  di bidang politik, hukum, keamanan, ekonomi, maupun sosial dan  budaya.

Stabilitas nasional secara umum aman dan terkendali. Kalau pun ada peristiwa yang cukup menyita perhatian adalah penembakan terhadap puluhan pekerja jembatan di Kali Yigi dan Aurak di Distrik Yigi, Kabupaten Nduga, Papua.  Kasus penembakan yang diduga dilakukan oleh Kelompok Kriminal Bersenjata ( KKB) pada awal bulan Desember, yang hingga kini masih dalam proses penanganan.

Di Bidang hukum, masih diwarnai banyaknya pejabat publik yang terlibat korupsi. Tercatat, 27 pejabat daerah dijadikan tersangka korupsi oleh Komisi Pemberantasan Korupsi ( KPK),  yang sebagian di antaranya hasil operasi tangkap tangan ( OTT ).
Salah satu penyebabnya adalah  masalah integritas moral, gaya hidup yang  masih hedonis serta budaya malu yang belum mengakar pada sebagian masyarakat kita. Termasuk, kalau bukan terutama, pejabat yang mestinya menjadi suri teladan yang baik dan utama.

Melemahnya nilai tukar rupiah terhadap USD dan labilnya harga beragam sembako masih menjadi isu ekonomi di tahun 2018 yang menebar waswas.
Yang tiada henti jadi bahan diskusi adalah persoalan politik. Kadang menjadi “isu panas”. Lebih-lebih di tengah suasana politik menjelang Pileg dan Pilpres.

Memanasnya situasi sulit terhindari karena tahun 2018 dikenal sebagai “tahun politik”. Digelarnya pilkada serentak pada 27 Juni di 171 daerah yang terdiri dari 17 provinsi, 39 kota dan 114 kabupaten, memaksa parpol beradu kekuatan. Berupaya dengan berbagai cara agar dapat menempatkan kadernya sebagai “raja” di daerah tersebut.

Lebih dari itu, agenda politik sebagai penentu nasib bangsa dan negara lima tahun ke depan dirumuskan dan ditetapkan di tahun ini. Mulai dari penetapan parpol peserta pemilu, pendaftaran calon hingga pengumuman daftar calon tetap anggota DPD, DPR, DPRD Provinsi, DPRD Kabupaten/Kota, dan puncaknya adalah pengumuman Capres/Cawapres berikut nomor urutnya.

Kedua pasangan Capres dan Cawapres : Joko Widodo – KH Ma’ruf Amin dan Prabowo Subianto – Sandiaga Salahuddin Uno sudah melakukan sejumlah aktivitas politiknya guna meraih dukungan massa.

Timses masing – masing paslon pun sudah melakukan beragam strategi kampanye dan pencitraan untuk memenangkan pilpres. Hasilnya akan teruji pada tanggal 17 April 2019 mendatang.

Memasuki masa kampanye seperti sekarang ini, sebagaimana lazimnya,
manuver politik kian santer, beragam isu pun dikemas – yang kadang membuat kuping terasa panas bagi mereka yang dikritisi, apalagi sudah menyinggung ranah pribadi.

Selama proses politik berjalan, kita sebagai warga masyarakat hendaknya  tetap bijak menyikapi beragam isu dan peristiwa yang terjadi belakangan ini. Jika kita bukan bagian langsung dari timses, hendaknya tidak terlalu jauh terlibat pusaran arus gesekan politik yang pada akhirnya akan merugikan diri sendiri dan lingkungan keluarga.

Gunakan hak politiknya secara baik dan benar serta sesuai hati nurani pada saat pencoblosan nanti. Itulah perlunya kita merefleksi serangkaian peristiwa politik yang telah terjadi sebagai acuan ke depan.

Tak kalah pentingnya merefleksi diri pribadi. Refleksi adalah gambaran atau cerminan. Maknanya sebuah perenungan atas kesalahan yang bersumber dari hati, diri pribadi atau karena faktor lingkungan. Perlu kiranya mempelajari penyebab kesalahan, memetakan persoalan, kemudian mencari cara mengatasinya agar tidak terperosok ke dalam lubang yang sama. Agar tidak mengulang kesalahan yang sama.Bukankah pepatah tetua kita mengatakan “Keledai pun tidak dua kali terperosok di lubang yang sama.”

Memang manusia sebagai makhluk sosial tentu tak akan bisa menutup diri dari serbuan jejaring sosial sebagai dampak berkembangnya media digital. Komunikasi antarmanusia kini tanpa sekat lagi. Tanpa batasan waktu dan tempat. Menyikapinya perlu lebih bijak, lebih hati – hati dalam bertindak dan berkomunikasi dengan siapapun, di manapun, dan dalam kondisi bagaimanapun.

Di sinilah perlunya menekankan integritas dalam bertransformasi dengan lingkungan.Integritas bisa dijadikan filter diri. Karena integritas adalah cerminan keteguhan hati dalam menjunjung tinggi nilai-nilai luhur dan keyakinan.

Belakangan intergritas sering tergoda akibat pengaruh gaya hidup era kini yang serba instan, pragmatis dan cenderung konsumtif .

Pesan yang hendak disampaikan adalah marilah kita mengedepankan “integritas” dalam menghadapi suasana global. Di era kemajuan digital dengan beragam dinamika yang ikut menyertai. (*)