Saturday, 20 July 2019

BNPB: Tsunami Selat Sunda Aneh

Rabu, 26 Desember 2018 — 5:30 WIB
Sutopo Purwo Nugroho, Kepala Pusat Data, Informasi, dan Hubungan Masyarakat Badan Nasional Penannggulangan Bencana.  (ikbal)

Sutopo Purwo Nugroho, Kepala Pusat Data, Informasi, dan Hubungan Masyarakat Badan Nasional Penannggulangan Bencana. (ikbal)

JAKARTA – Kepala Pusat Data, Informasi, dan Hubungan Masyarakat Badan Nasional Penannggulangan Bencana (BNPB) , Sutopo Purwo Nugroho menyebut tsunami di Selat Sunda sebuah bencana yang aneh. Aneh yang dimaksud Sutopo yakni bencana yang langka.

Menurutnya terdapat tiga bencana alam terbesar yang terjadi di sepanjang 2018 yang semuanya merupakan bencana langka alias jarang sekali terjadi. Bencana alam tersebut adalah Gempa dan tsunami serta likuifaksi di Sulawesi Tengah, gempa beruntun di Nusa Tenggara Barat (NTB) dan tsunami Selat Sunda.

” Ada 3 bencana yang cukup besar ditinjau dari korban dan kerusakannya. Tiga bencana ini aneh, langka terjadi,” ujarnya di Graha BNPB, Jalan Pramuka Raya, Jakarta Timur, Selasa (25/12/2018).

Sutopo menjelaskan gempa di NTB langka karena terhajadi secara beruntun. Sedangkan bencana di Sulteng karena gempa tidak hanya menimbulkan tsunami, tapi juga likuifaksi. Dia menyebut likuifaksi di Sulawesi Tengah menjadi yang terbesar di dunia.

“Tsunami juga fenomena langka karena dipicu longsoran bawah laut dan erupsi anak gunung krakatau,” imbuhnya.

Terlebih, lanjut Sutopo, erupsi Gunung Anak Krakatau yang longsoran bawah laut yang kemudian menimbulkam tsunami, Sabtu (22/12/2018) lebih besar dari erupsi pada Oktober dan November 2018 lalu.

Dia mencatat sepanjang sejarah, tsunami yang ditimbulkan akibat longsoran bawah laut dan erupsi gunung api seperti di Selat Sunda hanya memiliki persentase 10 persen. 90 Persen tsunami di Indonesia diakibatkan gempa tektonik.

“Dalam catatan sejarah tsunami di Indonesia, 90 persen dibangkitkan gempa bumi, 10 persen dibangkitkan oleh longsor bawah laut dan erupsi gunung api,” ungkapnya.

Diketahui hingga pukul 13:00, tercatat 429 orang meninggal dunia akibat tsunami Selat Sunda. 1.485 Orang mengalami luka dan 154 jiwa masih dinyatakan hilang. Tsunami juga memaksa 16.082 penduduk mengungsi. (ikbal)

Attachments area