Thursday, 17 January 2019

Pelajaran Berharga Tsunami Selat Sunda

Rabu, 26 Desember 2018 — 6:43 WIB

MENGEVALUASI bencana tsunami Selat  Sunda, wajib adanya. Tetapi mencari pembenaran, sudah sepatutnya dihindarkan.

Bencana sudah terjadi. Yang diperlukan sekarang adalah penanganan pasca-bencana dengan secepat mungkin mengevakuasi para korban baik yang meninggal dunia, yang belum diketahui nasibnya dan korban luka- luka. Tidak kalah pentingnya adalah recovery baik secara fisik terhadap bangunan yang rusak, kerusakan lingkungan maupun mental masyarakat. Trauma masyarakat perlu menjadi prioritas penanganan mengingat bencana datang di luar dugaan.

Badan Penanggulangan Bencana Nasional (BNPB) menyebutkan hingga Selasa (25/12/2018), sudah terdata 429 orang meninggal dunia. Korban yang mengalami luka, baik berat maupun ringan tercatat 1.485 orang.

Selain korban meninggal dan luka, BNPB mencatat 154 orang masih dinyatakan hilang. Sedangkan 16 ribu orang harus mengungsi akibat musibah tsunami Selat Sunda. Jumlah pengungsi diperkirakan masih terus bertambah mengingat daerah berdampak belum semuanya terdata.

Setidaknya ada tiga hal yang bisa dijadikan pelajaran dari tsunami Selat Sunda.

Pertama, masing – masing institusi yang terlibat langsung dalam penanganan bencana perlu lebih mengevaluasi diri. Evaluasi bukan bermaksud mencari kesalahan, tetapi merumuskan sebuah kebijakan ke depan dalam rangka mengurangi risiki bencana.

Kedua, kejelasan informasi kepada publik terkait bencana, terutama di awal – awal kejadian.
Ini menjadi penting agar masyarakat dapat lebih awal berupaya mencari solusi penyelamatan diri.
Kita sering mengenal sistem peringatan dini atas sebuah bencana yang baka terjadi dengan mendeteksi gejala alam.

Ketiga, melengkapi sejumlah peralatan, termasuk alat pendeteksi tsunami. Alat inilah yang akan melaporkan tanda – tanda bencana alam, termasuk tsunami.
Yang menjadi soal sejauh mana alat yang sudah tersedia terawat dengan baik.
Sering terjadi alat tak berfungsi dengan baik, bisa karena kurangnya perawatan atau tak jelas keberadannya karena hilang.

Belum lagi karena alatnya memang belum tersedia. Banyaknya korban tsunami di Selat Sunda satu di antaranya karena negeri kita belum memiliki sistem peringatan dini tsunami yang disebabkan longsoran bawah laut dan erupsi gunung api.

Kalau saja kita punya alat itu, setidaknya terdapat waktu 24 menit dari peritiwa longsoran bawah laut hingga tsunami sampai ke bibir pantai.

Tetapi semua sudah terjadi. Lantas bagaimana ke depan? Tsunami Selat Sunda menjadi pelajaran berharga. (*).