Sunday, 16 June 2019

Indonesia Negara Aman

Kamis, 27 Desember 2018 — 4:35 WIB

Oleh. H. Harmoko

SETIDAKNYA ada dua berita menggembirakan disampaikan pemerintah di ujung tahun 2018 ini. Pertama, Indonesia menguasai saham mayoritas Freeport.  Kedua, Indonesia masuk peringkat sembilan sebagai negara teraman di dunia. Indonesia juga termasuk negara tujuan investasi nomor 2 setelah negeri tetangga, Filipina.

Melalui PT Indonesia Asahan Alumunium (Inalum) Indonesia resmi menggenggam 51,23 persen saham PT Freeport Indonesia dengan membayarkan US$3,85 miliar atau sekitar Rp56 triliun (kurs Rp14.500 per Dolar AS).
Dengan kepemilikan mayoritas Freeport, kiranya bisa dikelola dengan baik dan digunakan sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat.

Beberapa waktu lalu, lembaga survei internasional, Gallup, merilis data negara paling aman di dunia. Dalam laporan Gallup’s Law and Order Report 2018, diketahui warga Indonesia secara umum merasa aman tinggal di negaranya dan percaya dengan kekuatan polisi serta penegak hukum.

Survei yang dilakukan Gallup mengukur kepercayaan warga terhadap pihak keamanan dan penegak hukum di sejumlah negara.  Hasil pemeringkatan ini dilakukan di 142 negara dengan wawancara lewat telepon kepada 1.000 warga di masing-masing negara yang berusia di atas 15 tahun.

Indonesia berada di posisi ke-9 dengan skor 89, hanya terkait satu poin dengan Swiss dan Kanada yang berada di posisi 7 dan 8.

Di tengah gejolak dunia global dan posisi Indonesia yang sangat beragam, menjelang pemilihan presiden 2019, berita itu sungguh sangat melegakan.

Singapura menjadi negara paling aman menurut warganya dengan dan berada di peringkat pertama dengan skor 97. Sedangkan Norwegia, Islandia, dan Finlandia masing-masing berada di peringkat 2, 3, dan 4.

Sementara Australia berada di peringkat lima puluh besar dengan skor 82 dan berbagi tempat dengan sejumlah negara lain, seperti Israel, Bangladesh, Filipina, Korea Selatan, dan Iran.

Lembaga Gallup mengaku melihat adanya hubungan kuat antara jawaban responden soal keamanan dari pengalaman pribadi dengan upaya penegakan hukum.

Hubungan ini menggambarkan bagaimana tingkat kejahatan yang tinggi dapat mengancam persatuan dan berdampak buruk pada perekonomian negara.

Warga di lima di kawasan Amerika Latin dan empat negara lain di sub-Sahara Afrika masih menunjukkan rasa tidak nyaman untuk berjalan kaki sendirian di malam hari.

Predikat Indonesia sebagai negara aman tidak didapat dengan duduk diam, menjaga pos perbatasan dan daerah rawan,  melainkan hasil kerja keras berbagai pihak selama ini. Karenanya, penting bagi kita sebagai warga masyarakat ikut merawat dan meningkatkan agar peringkatnya bisa lebih bagus lagi.

Dengan predikat Indonesia aman, akan lebih banyak urusan terselesaikan, negara-negara investor menanamkan modal di Indonesia, lebih banyak lapangan kerja terbuka,  maka kesejahteraan sosial dan kemakmuran rakyat lebih cepat terwujud.

Menjelang Pilpres 2019, suhu politik mulai memanas. Bukan oleh para kontestannya, melainkan disebabkan ‘semangat’ dan ‘militansi’ para pengikut yang mendukung dengan berbagai cara. Kadang-kadang cara pendukung tersebut di luar batas dan bersinggungan dengan hukum yang mengakibatkan suasana menjadi panas.

Maka, menjadi amat pentinglah merawat netralitas TNI, Polri dan ASN – aparat sipil negara atau PNS, sehingga pemilu yang jujur dan adil dapat terwujud manakala institusi pemerintah bersikap netral.(*)