Tuesday, 25 June 2019

Kekeluargaan Komunitas Vespa

Kamis, 27 Desember 2018 — 9:13 WIB
Foto ilustrasi

Foto ilustrasi

PENGENDARA vespa memiliki rasa kekeluargaan dan persaudaraan yang sangat erat, berlandaskan pada kecintaan dan hobby yang sama terhadap motor Vespa. Mereka saling tolong jika Vespa rusak atau mogok, dimanapun berada. Dari jenis apapun vespa yang digunakan, mereka saling membantu.

“Satu Vespa Sejuta Saudara” merupakan kalimat yang sering diucapkan komunitas Vespa. Slogan ini bukan main – main dan benar adanya, karena mampu menjalin hubungan baru dengan pengguna motor Vespa lain, baik sudah kenal maupun belum.

Komunitas Vespa memiliki gaya hidup dan jarang diketahui masyarakat umum. Gaya hidup ini merupakan kebiasaan unik yang sering di lakukan oleh komunitas Vespa di jalan atau saat sedang berkumpul dengan pengguna Vespa yang lain.

Pertama, “Stut motor Vespa lain”. Stut atau Step ini merupakan istilah yang sering di gunakan komunitas Vespa saat mengalami masalah atau mogok. Stut atau Step ini di lakukan dengan cara menempelkan kaki pada footstep motor yang mogok dan mendorongnya.

KARAKTERISTIK
Kedua, “Salam, Sapa, Vespa” Inilah karakteristik dari komunitas Vespa, mereka selalu memberi salam terhadap sesama pengendara motor Vespa di jalan baik yang sudah mereka kenal maupun yang belum di kenal. Walaupun hanya sekedar sapaan “mari mas” terdapat makna khusus di dalamnya.

Ketiga, Bakti Sosial. Di balik penampilan komunitas Vespa yang terkesan berbeda dan unik, komunitas Vespa sering mengadakan bakti sosial. Seperti bencana yang di alami warga Palu dan Donggala, Alif dan komunitas Vespanya “DipScoot” mengumpulkan dana dan disumbangkan kepada masyarakat Palu dan Donggala.

Keempat, touring tanpa membawa uang sedikit pun. Hampir semua anggota dari komunitas Vespa bercita–cita mengunjungi setiap daerah di Indonesia ini dengan Vespa tercintanya.

Ini misi komunitas Vespa, menjelajah daerah dengan Vespa. Mereka mampu touring tak membawa uang sedikit pun. Tujuannya ingin belajar untuk berjuang dan mencari uang di jalanan dengan mengumpulkan botol bekas, kerja di bengkel dan lain-lain.

Penulis: Mahesa Jenar, Mahasiswa London School of Public Relations.