Wednesday, 20 March 2019

Nasib Nelayan Jakarta

Kamis, 27 Desember 2018 — 6:59 WIB

GELOMBANG tinggi melanda hampir seluruh perairan Indonesia, termasuk Jakarta. Akibat gelombang tinggi itu,  para nelayan ogah melaut lantaran takut disapu ombak.

Apalagi belum lama ini di Selat Sunda telah terjadi tsunami yang memporakporandakan Banten dan Lampung. Adanya bencana di dekat perairan Jakarta, tentu saja nyali nelayan untuk melaut bertambah mengkeret.

Para nelayan kini memilih menyandarkan kapalnya daripada nekat, tetapi mendapatkan risiko yang tidak diinginkan. Namun, mereka tetap harus bersiaga   di pinggir pantai untuk menjaga perahu dan peralatan tangkap ikan jika sewaktu-waktu disapu ombak besar, sehingga bisa diselamatkan.

Gelombang tinggi yang sering disebut para nelayan angin barat adalah kondisi yang sudah pasti terjadi, karena memang siklus tahunan. Biasanya angin barat melanda pada November sampai dengan Febuari.

Saat angin barat seperti ini adalah masa-masa paceklik bagi nelayan di Jakarta. Lantaran takut melaut, guna memenuhi kehidupan sehari-hari, mereka terpaksa utang ke sana kemari.

Caspan, nelayan Muara Angke, Jakarta Utara, misalnya, sejak gelombang tinggi disertai angin kencang melanda perairan Jakarta dirinya praktis menganggur dan untuk menghidupi keluarganya harus utang.

Nasrip, nelayan Kepulauan Seribu, juga tidak berani mengambil risiko untuk nekat melaut. Dia memilih  melakukan aktifitas lainya seperti memperbaiki jala, perahu yang digunakan  melaut dan sejumlah peralatan lainya untuk mencari ikan.

Hanya saja untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarganya, Nasrip tidak utang, tetapi mengandalkan sisa tabungan yang dikumpulkan saat tidak  musim ombak.

Potret ngenes ini tentu saja harus direspon Pemprov DKI Jakarta untuk mengangkat para nelayan pesisir ibukota itu dari kubangan utang. Gubernur Anies Baswedan harus melakukan terobosan.

Terobosan  jangka pendek, bisa saja Pemprov DKI Jakarta memberikan bantuan pangan dan kebutuhan hidup lainnya sepanjang angin barat melanda. Bila utang dan utang terus dilakukan dikhawatirkan mereka akan terjerat rentenir.

Sementara untuk jangka panjang, Pemprov DKI Jakarta tidak ada salahnya menyiapkan mereka menjadi nelayan budidaya, sehingga tidak rentan terhadap gelombang tinggi.

Bukankah Anies dan Sandiaga Uno saat Pilkada DKI Jakarta 2017 berjanji meningkatkan kesejahteraan nelayan diantaranya  menyelenggarakan program kewirausahaan dengan memberikan insentif seperti permodalan? Kini saatnya janji itu dipenuhi. @*