Sunday, 16 June 2019

Resolusi Tahun Depan

Senin, 31 Desember 2018 — 6:59 WIB

Oleh H. Harmoko

MENJADI kecenderungan baru – beberapa tahun terakhir ini – di kalangan kaum menengah kota dan intelektual, juga generasi milenial, pada setiap menjelang pergantian tahun, membuat suatu resolusi diri. Resolusi diri bisa menyangkut urusan pribadi, pasangan, keluarga, namun bisa juga menyangkut kepentingan orang banyak.

Dalam hal pribadi, misalnya, resolusi di tahun depan adalah menurunkan berat badan, menjalani hidup sehat, berhenti merokok, menabung lebih banyak, mengurangi begadang dan hura- hura, menikah – bagi yang masih ‘single,’ – ingin lebih dekat dengan pasangan – bagi yang sudah memilikinya – ingin lebih mendalami religi dan lain- lain.

Dalam bidang sosial, resolusi tahun depan, ingin peduli lingkungan, ingin lebih banyak membantu orang lain, ingin mengurangi penggunaan plastik, tidak membuang sampah sembarangan, menanam pohon di sekitar rumah, peduli pada kesejahteraan masyarakat dan memberi sumbangsih pada negara, sebagai contoh di antaranya.

Secara harfiah, resolusi adalah putusan, kebulatan dan tuntutan yang ditetapkan dalam suatu rapat dan atau, dalam suatu permufakatan. Namun, ada juga perluasan makna, resolusi juga berarti ketetapan hati, tekad baru, komitmen untuk berubah, bagi diri sendiri, dalam mencapai sesuatu, yang berbeda atau lebih baik dari tahun- tahun sebelumnya.

Apa resolusi Anda tahun 2019 nanti?

Jawaban paling sederhana adalah “ingin lebih baik dibanding tahun sebelumnya – yaitu tahun lalu”. Tapi itu terlalu umum – cenderung kabur . Maka tetapkanlah lebih spesifik.

Menurut penelitian di Inggris, 82 persen resolusi tahunan dari para pribadi tidak tercapai. Alias gagal. Karena terlalu umum dan tidak tertulis. Karena lemahnya komitmen – sekadar tekad kosong dan angan- angan semata. Sekiranya lebih spesifik, mungkin akan terasa lebih mudah.

Misalnya, resolusi menurunkan berat badan akan mendorong pembuat resolusi pribadi pergi ke gym, mengatur makanan, mengurangi ‘junk food’ (makanan cepat saji yang tidak baik untuk kesehatan jangka panjang) – dan tidur yang teratur. Resolusi ingin religius, maka membuat yang bersangkutan ingat ibadah, membaca dan menghayati buku- buku religius, menaati dan mempraktikannya.

Tahun 2018 telah kita lewati dan tahun 2019 sebentar lagi tiba. Apa pencapaian Anda yang ingin Anda tetapkan. Apa resolusi Anda di tahun depan?

Anda punya masalah pribadi yang ingin diselesaikan? Silakan tetapkan resolusi diri. Akan tetapi, selain pribadi, akan lebih baik jika resolusi yang ditetapkan menyangkut kemaslahatan bersama. Dan terkait dengan kondisi masyarakat saat ini.

Misalnya, resolusi tahun depan, berjuang bersama menghapus hoaks dan ujaran kebencian dengan cara, minimal tidak menyebarluaskannya. Setiap menerima hoaks dan ujaran kebencian langsung menghapusnya. Tidak perlu mengonfirmasi kepada teman, dengan cara mengedarkan ke rekan sahabat dan grup media sosial.

Menerima informasi yang menyesatkan dan mengandung unsur kebencian, lalu menyebarkannya akan mendorong pikiran dan tindakan serta keputusan yang keliru, berdampak negatif, bagi yang menerima, dan dalam jumlah yang banyak dan masif pada akhirnya menyesatkan, karena tidak sesuai fakta, dan dampaknya secara bersama -sama menuju kesesatan.
Sungguh tidak baik bagi masyarakat dan masa depan bangsa ini.

Anda tidak perlu angkat senjata dan menumpahkan darah untuk berjuang bagi kelangsungan bangsa kita. Karena saat ini pun kita juga sedang tidak bermusuhan dengan negara lain. Bila Anda tidak menyebarkan hoaks dan ujaran kebencian, sudah cukup menyelamatkan banyak orang dari kemungkinan tindak perundungan – bullying, dan dampak negatif lainnya bagi masyarakat.(*)